Ziarah Makam Tujuh Raja-raja Simalungun

ZIARAH HINGGA BADAI PESTA RONDANG BITTANG
UPAYA MEMPELAJARI TRADISI SIMALUNGUN DAN HABONARON

Pada hari selasa (28/6) tepat pukul 5 pagi (subuh) penulis sudah berada di halaman Kantor Bupati Simalungun tepatnya depan lap. Adam Malik Pematang Siantar. Telah digagas semula oleh Partuha Maujana Simalungun bersama Disbudpar Kab. Simalungun untuk melakukan ziarah bersama Bupati JR Saragih ke tujuh makam raja raja simalungun sebagai sebuah rangkaian kegiatan menjelang Pesta Rondang Bittang ke – 26. Sebuah gagasan yang tidak biasa, mengingat tokoh PMS seperti Polentyno Girsang, Sekjen Pardi Purba dan jajaran lain yang kebanyakan berusia lanjut harus bangun pagi pagi dan menahan dingin subuh sebelum matahari terbit.

Rombongan Bis Pemkab dengan dua mobil pengiring di depan berjalan menyusuri pagi dari siantar langsung menuju makam leluhur Harajaon Tanah Jawa, tepatnya di sekitar kantor camat Tanah Djawa. Persiapan yang dilakukan PMS – Disbudpar diperkirakan cukup matang, ternyata masih ada kesalahan koordinasi. Protokoler kebingungan sebab tidak adanya penyambutan di lokasi. Rombongan Bupati JR Saragih menunggu waktu yang cukup lama sebab tidak ada penyambutan ahli waris Harajaon Tanah Djawa di lokasi makam Raja Sang Madjadi, sementara ahli waris Harajaon Tanah Jawa, Arifin Alamsyah Sinaga (Hasusuran Harajaon Tanah Djawa Op. Jintar Sinaga Dadihoyong bergelar Op. Naisimin) sebenarnya sudah lama menunggu di lokasi seberang, yaitu makam Op. Jintar Sinaga Dadihoyong (Op. Naisimin).

“Domma lepak on, halani na parlobei i ziarah ai ma Op. Jintar Sinaga. Anggo salah malangkah, boi da halak na ziarah on meninggal dunia” tutur Arifin Sinaga dengan nada keras setelah rombongan bertemu dengannya. Arifin Sinaga menganggap sebuah kesalahan fatal tentang urutan proses ziarah yang telah dilaksanakan tanpa koordinasi terlebih dahulu. Persoalan bagi rombongan mungkin sederhana karena telah lebih dahulu berada di tempat lokasi lalu segera melakukan ziarah makam Raja Sang Mahjadi, tapi bagi beliau urutan proses ziarah salah, harus terlibh dahulu ziarah kepada leluhur yang lebih terutama dan tertua. Permintaan maaf diwakili oleh Polentyno Girsang dari rombongan serta tetap berharap selalu menjaga HASADAON SIMALUNGUN meski ada kesalahan. Kegiatan ziarah kemudian berjalan dengan memberikan demban dan maranggir.

Selanjutnya Rombongan Bis segera menuju Makam Raja Sang Nawaluh (Harajaon Siattar) di pematang. Rombongan disambut baik oleh I HUTAN BOLON DAMANIK, duduk bersama dalam satu tikar, memberikan demban pamuhunan lalu ziarah bersama sama.
Diteruskan, menuju makam leluhur Harajaon Panei, Tuan Bosar Sumalam Purba Sidasuha. Berikutnya menuju Harajaon Purba Pak Pak di Pematang Purba, Harajaon Silimakuta di Nagasaribu, Harajaon Dologsilou di Saranpadang. Keesokan harinya, ziarah ke Makam Tuan Rondahaim dengan arahan Opung Guru Raya serta marrangir di mata air tak jauh dari lokasi makam. Maranggir tersebut khusus untuk muda mudi agar sedia membersihkan diri serta mendapatkan jodoh pada saat Pesta Rondang Bittang.

BADAI PESTA RONDANG BITTANG
Hari kedua Pesta Rondang Bittang, Jumat (1/7) pukul 10.00 pagi, penulis bersama teman teman komunitas jejak simalungun bergegas menuju stand pameran untuk menyiapkan barang barang pameran. Cuaca cukup terang, terik matahari siang tanpa kesan mendung perlahan menyingsing mengusir dingin pagi. Kira2 pukul 12.00 siang barang barang pameran telah kami susun dengan rapi dan mulai satu dua pengunjung datang dan bertanya perihal perjalanan situs KJS. Kira kira pukul 14.00 hujan turun dengan cepat dan deras, teman teman komunitas sibuk menggeser benda benda pameran agar tidak basah kuyup terkena hujan. Ternyata hujan es sudah berjatuhan, seng seperti bunyi atap terkena lemparan batu susul menyusul, sementara es dengan ukuran lebih kecil dari kelereng terlihat jatuh berloncatan di sekitar stand. Hujan deras pun mulai menyirami seluruh area lapangan bekas Kantor Bupati Pematang Raya.

Tak cukup memakan waktu lama, angin kencang bagai badai bersama hujan deras menyapu habis areal halaman Kantor Bupati Pematang Raya. Peserta lomba yang berada di dalam tenda panggung utama segera melarikan diri, tenda utama telah terhempas satu meter ke belakang. Tenda VIP tamu kehormatan rubuh, kursi kursi bergulingan terlempar. Teman teman komunitas mencoba bertahan sebentar, langkah menuju zona aman di kantor bupati tertahan sebab agak jauh untuk melintas, serta mengingat ada beberapa barang masih belum terkumpul berserakan. Tapi bertahan berlama lama malah membuat kondisi semakin berbahaya, seng seng di sekitar stand sudah banyak yang mulai terlempar berterbangan. Angin menjadi Badai Amuk, siapa yang mau terkena rubuhnya stand dan hempasan seng ? komunitas segera melarikan diri ke aula kantor Bupati Simalungun. Di dalam sudah banyak orang berkumpul melindungi dirinya. Hujan semakin deras, di tambah asbes teras utama kantor Bupati telah marumpak rubuh. Tak seorang pun berani keluar dari gedung pada waktu itu. Ada orang kesurupan di balik gedung dan satu orang luka terkena rubuhan atap asbes.
Kira kira dua jam berlangsung, hujan mulai reda. Semua orang yang berada di dalam gedung keluar perlahan lahan. Sebuah pertunjukan badai yang cukup menggelengkan kepala dan sebaiknya tidak terulang kembali.

BUKAN FENOMENA ALAM

Penulis berkesempatan melakukan dialog dengan spiritualis Habonaron (pencapaian kesadaran murni), demi menghormati beliau agar tidak terjebak dalam perdebatan panjang, penulis tidak menyebutkan nama. Kita hanya mengambil gagasan dan nilai nilai yang masih relevan dengan solusi permasalahan. Bagi kaum spiritualis, ziarah dan prosesi mamuhun adalah ritual penghormatan terhadap leluhur yang tidak dapat dianggap remeh dan bisa berjalan sambil lewat saja. Seperti melewati orang yang lebih tua di sebuah gank jalan, kata “satabi (permisi)” dengan kepala sedikit menunduk adalah sopan santun yang berlaku sebagai tanda hormat dan menghargai orang yang lebih tua agar tidak merasa tersinggung bila berjalan seenaknya.

Hal demikian juga berlaku dalam prosesi ziarah yang telah dilakukan rombongan Bupati JR Saragih dan Partuha Maujana Simalungun. Bahwasanya Opung Tuan Rondahaim (bukan putera mahkota) memiliki saudara dekat dengan Opung Saragih Dasalak (kelak mendirikan kerajaan Padang, Tebing Tinggi dengan keturunannya memakai nama Tengku) yang pergi meninggalkan kerajaan Raya sebab tidak menyukai perselisihan kerajaan dengan berjalan di bawah bimbingan “kilat” Opung Pagar Parorot (Habonaron) lalu mendapat sebidang tanah dan memiliki keahlian tanam tanaman sehingga banyak orang mendapat bantuan dan suka mengangkatnya menjadi raja dengan nama Kerajaan Padang (makam beliau di tebing tinggi akan ditelusuri oleh Komunitas Jejak Simalungun). Lalu meninggal dunia dalam kondisi gaib (moksa) sehingga makam hanya berisi benda2 berupa kain kafan dll. Lalu bersamaan “roh” Tuan Saragih Dasalak kembali bersama Opung Pagar Parorot (Habonaron) kembali ke Raya dan sekarang berdiam di Rumah Bolon Hapoltakan.

Penulis selama mengikuti acara ziarah makam tujuh raja raja memberi pendapat kiranya, prosesi ziarah leluhur Rumah Balon Hapoltakan (Saragih Dasalak) telah dilupakan. Serta bukan kebetulan bila salah satu pemimpin rombongan ziarah (inisial JRS) memiliki pertalian darah (BONA) dengan Rumah Bolon Hapoltakan yang nota bene berada tepat di depan rumahnya. Demikianlah dialog dengan Spiritualis Habonaron, sebuah alasan “kesopanan spiritual” yang tidak dijalankan kepada leluhur hingga terjadi badai pada Pesta Rondang Bittang hari kedua.

MENGABAIKAN SIMADA TALUN

Hal lain yang perlu menjadi khazanah budaya simalungun adalah marsisungkun sungkunan. Siapakah simada talun area kantor Bupati Pematang Raya ? Menurut cerita orang tua, wilayah tersebut adalah perbatasan yang dimiliki partuanon Raya Tongah yang tentu dapat diwakili oleh Hasusuran Partuanon Raya Tongah, yaitu Sumbayak Raya Tongah. Secara adat kebiasaan simalungun, lazim tidak mengabaikan dan sebelum membuat acara besar selalu memberikan demban dan dayok na binatur kepada simada talun.

MENGABAIKAN MANITI ARI

Jika diperkirakan waktu pelaksanaan yang tepat untuk mendapatkan terang bulan adalah minggu ke dua bulan Juli. Para leluhur terdahulu berdasarkan pengetahuan dan pengalaman hidup melakukan perkiraan cuaca, telah memilih Terang Bulan sebagai waktu yang tepat untuk memudahkan pelaksanaan Pesta. Tetapi Panitia menilik waktu luang dan hari libur sekolah anak anak yang akan mengikuti perlombaan mengabaikan faktor “MANITI ARI” yang tentu nya memiliki konsekuensi dan resiko sendiri.

KRITIK TRADISI

Kita sudah selayaknya berterima kasih kepada leluhur yang secara estafet mewariskan cara hidup, adat kebiasaan dan nilai nilai harmoni budaya simalungun yang telah susah payah mereka uji dan pelajari melewati abad berdasarkan pengalaman hidup. Mereka memiliki “kreasi budaya” sendiri pada zamannya, demikian juga kita yang telah menapaki arus zaman modern seperti halnya nenek moyang memiliki “kreasi budaya” sendiri. Dengan demikian hubungan kita dengan leluhur adalah partner “kreasi budaya” sebuah estafet kebudayaan dalam rangka mempertahankan, memajukan dan menikmati hidup “hasimalungunon”.

Kritik pertama kita ajukan apabila dalam prosesi ziarah makam raja raja tersebut bila tertanam nilai nilai memper(TUHAN)kan roh leluhur dan masa lalu. Memberikan “roh” leluhur pada kedudukan sewajarnya sebagai partner spiritual yang saling mendoakan sebagai sesama pejalan kaki kehidupan menuju Sang Pencipta, jauh lebih bermanfaat daripada meminta rezeki, pangkat dan kejayaan yang serba fana. Sebab manusia diciptakan memiliki kemampuan kemanusiaannya sendiri untuk memecahkan masalahnya tanpa harus selalu bergantung dan bertanya kepada “roh” leluhur.

Kritik kedua, bila memandang tradisi sebagai satu satu nya kreasi budaya yang paling baik, benar dan tak dapat di rubah, sehingga kehidupan harus kembali ke masa silam (aliran regresi) tanpa membuka kemungkinan peluang adanya kreasi kreasi budaya baru atas desakan kebutuhan ekspresi zaman modern. Sebagian tradisi dapat kita tinggalkan karena tidak memenuhi kebutuhan zaman dan sebagian lagi kita gunakan sebab masih relevan dalam menjawab persoalan persoalan zaman. Dengan demikian, ada tradisi yang harus utuh dan tidak utuh.

Akhir kata, selalu ada dialektika budaya. Bagi penulis, melupakan leluhur adalah suatu perbuatan durhaka yang berarti kita melupakan darimana kita berasal. Apakah mereka bukan bagian dari Sang Pencipta, adakah kita bisa lahir dan ber(ada), tanpa lebih dulu ada keberadaan mereka ? Kita menghormati, menghargai dan mengucap syukur adanya keberadaan roh leluhur sebagai partner penyeimbang spiritual tanpa tersesat ke dalam memper(TUHAN)kan. Mari menjaga keseimbangan hidup tanpa melupakan AKAR diantara derasnya arus informasi, hegemoni BARAT atas nilai nilai zaman modern. Tentunya dengan sebuah pondasi tradisi yang bernama, HASIMALUNGUNON, yang selalu baru, berbuah dan berkecambah.

Penulis : Sultan Saragih,
Bersama komunitas melakukan jejaring dan dialog budaya bersama spiritualis Habonaron.

Kredit Photo : @Komunitasjejak Simaloengoen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s