Sistem Kekerabatan di Simalungun.

Tolu Sahundulan, Lima Sadalanan

Sistem kekerabatan suku Simalungun bertolak dari azas TOLU SAHUNDULAN, LIMA SADALANAN, PITU SAODORAN. Azas yang sama (diketahui) juga terdapat pada sub-suku bangsa Batak lainnya (Karo, Mandailing, Pakpak dan Toba), hanya saja dengan sebutan yang berbeda-beda. Pada suku Batak Toba misalnya, disebut sebagai DALIHAN NA TOLU.

Azas TOLU SAHUNDULAN ini menempatkan seseorang, secara pasti sejak lahir sampai akhirnya meninggal dunia, memiliki tiga kemungkinan posisi dalam berinteraksi baik dengan individu maupun dengan sekelompok orang. Ada saatnya dibawah dalam arti harus lebih menghormati pihak (individu maupun kelompok) lawan bicara, ada saatnya sejajar dalam arti tidak perlu menganggap lawan interaksi sebagai pihak yang harus lebih dihormati tetapi cukup menganggap sebagai teman sebaya, dan ada pula saatnya diatas dalam arti menganggap diri sebagai orang yang selayaknya lebih dihormati. Pemposisian diri ini didasarkan pada penggolongan terhadap pihak lawan interaksi ke dalam tiga kelompok. Kelompok dimaksud adalah: (1)Tondong, yakni kelompok orang-orang yang posisinya di atas; (2)Sanina, yakni kelompok orang-orang yang posisinya sejajar; dan (3)Boru, yakni kelompok orang-orang yang posisinya di bawah.
Azas ini, setidaknya hingga saat ini, masih dijunjung tinggi sehingga pemposisian diri itu tidak terbatas hanya pada saat berinteraksi dengan anggota masyarakat suku Simalungun saja. Tetapi juga dengan individu lain diluar suku Simalungun, sejauh masih terdapat hubungan kekerabatan. Misalnya saja, melalui perkawinan antara salah satu anggota keluarganya dengan orang dari luar suku Simalungun.

Jadi, seseorang harus lebih menghormati pihak lawan interaksi bila berhadapan dengan kelompok Tondong, bersikap sebagai teman sebaya bila berinteraksi dengan Sanina dan pada saat berinteraksi dengan Boru, seseorang berada pada posisi di atasboleh menganggap diri sebagai orang yang harus lebih dihormati.

Meskipun boleh menganggap diri sebagai orang yang harus dihormati bila berinteraksi dengan Boru, itu tidak berarti boleh merendahkannya baik dalam sikap maupun perkataan. Sebab, tidak ada hukum dalam adat yang menyatakan hal itu boleh dilakukan, bahkan aturan adat yang menyatakan secara tegas bahwa posisi seseorang lebih tinggi dari Boru-nya pun tidak ada. Posisi diatas yang didapatkan seseorang dari Boru-nya hanyalah sebuah “anggapan”. Suatu anggapan yang muncul karena bagi Boru, seseorang itu dengan sendirinya adalah Tondong atau orang yang harus lebih dihormati.

Seperti halnya tidak adanya aturan adat yang secara tegas menyatakan bahwa posisi Tondong lebih tinggi dari boru, juga tidak ada aturan adat yang secara tegas menyatakan bahwa merendahkan boru sebagai suatu pelanggaran. Namun seseorang yang sering bersikap merendahkan Boru-nya, pasti akan mendapatkan ganjaran. Yakni pada saat seseorang itu melangsungkan suatu acara adat. Sebab pada saat itu, Boru akan sangat berperan. Pekerja utama dalam suatu acara adat seperti menyiapkan makanan, menyiapkan tempat menyelenggaraan acara dan pekerjaan- pekerjaan “kasar” lainnya adalah tugas pihak Boru. Bila pihak Boru sebelumnya selalu direndahkan, bagaimana mungkin mengharapkan mereka bekerja dengan baik? Dan, tidak ada satu pun acara adat yang tidak melibatkan Boru. Dengan perkataan lain, tanpa adanya Boru, acara adat tidak akan pernah bisa dilaksanakan.

Karena itulah orang-orang tua selalu mengingatkan agar menyayangi Boru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s