Ensembel Musik Tradisional Simalungun

 A.    GONRANG SIDUA-DUA SIMALUNGUN

Gonrang Sidua-dua adalah seperangkat musik tradisional simalungun yang terdiri dari satu buah sarune bolon, dua buah gonrang, dua buah gonrang mongmongan dan dua buah ogung. Gonrang dalam kebudayaan simalungun disebut juga dengan mardagang yang artinya merantau atau berpindah-pindah. Pemain Gonrang Sidua-Dua disebut Panggual. Lagu-lagu gonrang disebut Gual. Membunyikan/memainkan Gonrang disebut Pahata.

Gual gonrang sidua-dua dibedakan atas dua bagian :

  1. Topapon, yaitu gual yang menggunakan dua buah gendang dan pola ritmenya sama.
  2. Sitingkahon/Siumbakon, yaitu gual yang menggunakan dua buah gendang yang masing-masing mempunyai pola ritme yang berbeda. Apabila pembawa ritme dasar oleh gonrang sibanggalan dan gonrang sietekan sebagai pembawa ritme lain, maka disebut sitingkahon. Apabila pembawa ritme dasar oleh gonrang sietekan dan gonrang sibanggalan sebagai pembawa ritme lain, maka disebut siumbakon.

Penggunaan Gonrang Sidua-Dua

Dalam upacara religi, maksudnya suatu upacara pemujaan atau penyembahan maupun pemanggilan roh yang baik dan pengusiran roh yang jahat. Gonrang sidua-dua digunakan dalam acara :

  1. Manombah/memuja, yaitu untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
  2. Marangir, yaitu suatu acara untuk membersihkan badan dari perbuatan tidak baik dan roh-roh jahat.
  3. Ondos Hosah, yaitu semacam ritual tolak bala yang dilakukan oleh desa atau keluarga.
  4. Manabari/manulak bala, yaitu mengusir mara bahaya dari suatu desa atau dari diri seseorang.
  5. Marbah-bah, yaitu suatu untuk menjauhkan seseorang dari penyakit ataupun kematian.
  6. Mangindo pasu-pasu, yaitu meminta berkat agar tetap sehat dan mendapat rezeki.
  7. Manogu losung/hayu, yaitu acara untuk mengambil kayu untuk dijadikan lumpang atau tiang rumah.
  8. Rondang bintang, yaitu suatu acara setelah panen besar.

Dalam upacara adat, yaitu  upacara dalam hubungan antara manusia dengan manusia. Gonrang sidua-dua digunakan dalam acara :

  1. Mamongkot rumah, yaitu acara memasuki rumah baru.
  2. Patuekkon, yaitu acara untuk membuat nama seseorang.
  3. Marhajabuan, acara pemberkatan pada suatu perkawinan agar perkawinan tersebut diwarnai kebahagiaan.
  4. Mangiligi, yaitu suatu acara yang diadakan untuk menghormati seseorang yang meninggal dunia yang sudah memiliki anak cucu.
  5. Bagah-bagah ni sahalak, yaitu suatu acara yang diadakan karena seseorang ingin membuat pesta.

Dalam acara malasni uhur atau acara kegembiraan, Gonrang sidua-dua digunakan dalam acara :

  1. Mangalo-alo tamu, yaitu suatu acara untuk menyambut tamu penting dari luar daerah.
  2. Marilah, merupakan suatu acara muda-mudi yang menyanyi bersama.
  3. Pesta malasni uhur, yaitu suatu acara kegembiraan yang diadakan suatu keluarga.
  4. Peresmian, bangunan-bangunan, yaitu suatu acara kegembiraan meresmikan bangunan.
  5. Hiburan, dan lain-lain.

B.     GONRANG SIPITU-PITU/ GONRANG BOLON SIMALUNGUN

Gonrang sipitu-pitu/ gonrang bolon adalah seperangkat alat musik tradisional Simalungun yang terdiri dari satu buah sarunei bolon pemainnya disebut parsarune, tujuh buah gonrang pemainnya disebut panggual, dua buah mong-mongan pemainnya disebut parmongmong dan dua buah ogung yang pemainnya disebut parogung. Parhata gonrang sipitu-pitu sama dengan gonrang sidua-dua. Masyarakat simalungun menyebut  gonrang ini dengan nama gonrang bolon untuk upacara adat malas ni uhur (sukaria) dan menyebutnya gonrang sipitu-pitu untuk upacara adat mandingguri (duka-cita)

Penggunaan Gonrang sipitu-pitu

Dalam upacara religi, gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon digunakan dalam acara :

  1. Manombah/memuja
  2. Maranggir
  3. Ondosh Hosah
  4. Manabari/ mamulak bala
  5. Mangindo pasu-pasu
  6. Rondang Bintang
  7. Manraja, yaitu upacara penobatan seorang raja.

Dalam upacara adat gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon digunakan dalam :

  1. Upacara adat sayurmatua : mandingguri dan mangiliki
  2. Upacara data malas ni uhur : mamongkot rumah, patuekkon, marhajabuan, bagah-bagah ni sasahalak.

Nyanyian Rakyat Simalungun

Orang simalungun menyebut nyanyian rakyat simalungun dengan doding. Bernyanyi dalam bahasa simalungun disebut mandoding. Adapun jenis-jenis nyanyian rakyat simalungun adalah sebagai berikut :

  1. Taur-taur dan simanggei, nyanyian keluh kesah pemuda-pemudi. Taur-taur dinyanyikan oleh pemuda dan simaggei dinyanyikan oleh pemudi.
  2. Ilah, yaitu nyanyian yang dilakukan oleh pemuda dan pemudi secara bersamaan.
  3. Doding-doding, yaitu suatu nyanyian bersama-sama (nyanyian umum).
  4. Urdo-urdo, yaitu nyanyian dari orang tua untuk menidurkan anak yang masih kecil.
  5. Tihtah, yaitu nyanyian untuk bermain
  6. Tangis, merupakan nyanyian duka karena putus asa  berpisah dengan anggota keluarga karena kematian.
  7. Orlei dan dan mardogei, yaitu suatu nyanyian yang dilakukan secara bersama-sama sambil bekerja.
  8. Mandillo tonduy, yaitu nyanyian yang dilakukan ibu tua untuk memanggil roh.
  9. Manalunda/mangmang yaitu suatu mantera yang dinyanyikan oleh seorang datu (dukun) guna menyembuhkan suatu penyakit atau pelantikan seorang raja.
  10. Inggou turi-turian, yaitu suatu nyanyian yang dilagukan oleh seorang datu untuk hiburan dan diakhiri dengan suatu upacara.

Fungsi nyanyian rakyat simalungun :

  1. Pengungkapan emosional
  2. Penghayatan estetis
  3. Sebagai Hiburan
  4. Sarana komunikasi
  5. Sebagai pelambang
  6. Untuk reaksi jasmani
  7. Kontrol sosial
  8. Untuk pengesahan lembaga sosialdan upacara agama
  9. Sarana pengajaran

Untuk pengintegrasian masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s