Tentang dearmawantomunthe

PENDIDIKAN UMUM: SD Swasta St Petrus Medan, Tahun 1997 SMP Swasta St Petrus Medan, Tahun 2000 SMK Swasta Dharma Bakti Medan, Tahun 2003 UNIMED, Jurusan Teknik Mesin D3, Tahun 2006 UNIMED, Jurusan Pend. Tek. Mesin, Tahun 2011

SIMALUNGUN & KARO

Erond L. Damanik, M.Si
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Universitas Negeri Medan (PUSSIS-UNIMED)

1. Pengantar

Terdapat dua kerajaan kuno terbesar (the great ancient kingdom) di Sumatra Utara, yaitu Aru dan Nagur. Kerajaan Aru sangat popular dalam tulisan Karo dan khususnya Melayu. Artifak kerajaan ini masih berdiri kokoh berupa batu Nisan bernuansa Islam (Islamic tomb) yang terhampar di Kota Rentang Hamparan Perak maupun Benteng Putri Hijau di Delitua Namurambe. Sedangkan kerajaan Nagur dikenal luas sebagai kerajaan Batak yakni Simalungun.

Kedua kerajaan ini, rentan mendapat serangan dari Aceh dalam rencana unifikasi kerajaan di Sumatra dalam genggaman Aceh. Seperti diketahui, Kerajaan Aceh berencana untuk mempersatukan seluruh kerajaan di Sumatra sehingga melakukan agresi dan pelenyapan kerajaan hingga Bintan. Tentang hal ini, dapat dibaca dalam buku Tarich Atjeh dan Nusantara (1967) ataupun Singa Atjeh (1957) tulisan HM. Zainuddin. Demikian pula dalam buku Kerajaan Aceh (2007) tulisan Denys Lombard, Kronika Pasai (1987) oleh Ibrahim Alfian, Aceh: Dimata Kolonialis (1984) tulisan Snouck Hurgronje, atau pula surat Iskandar Muda kepada King James-I di Inggris pada tahun 1615 (Golden Letter: Surat Emas Raja Nusantara, 1997: Lontar Indonesia).

2. Catatan Tentang Nagur

Kerajaan Nagur diyakini merupakan salah satu kerajaan besar di Sumatra Utara yang berlokasi di Simalungun, penguasa ataupun pemerintahnya adalah dinasti Damanik. Sumber-sumber tulisan tentang Nagur umumnya diperoleh dari tulisan pengelana Tiongkok seperti Cheng Ho dan Ma Huan. Tulisan-tulisan tersebut telah dikompilasi oleh Groenoveltd, dalam Historical Notes in Indonesia and Malay (1960). Selanjutnya, menurut catatan Parlindungan (2007) dalam bukunya Tuanku Rao, Nagur berdiri pada abad ke-5 dan runtuh pada abad ke-12. Dalam buku tersebut diuraikan bahwa, Raja Nagur terakhir yang bernama Mara Silu, pada saat keruntuhan swapraja tersebut melarikan diri ke Aceh, berganti nama dan menjadi Islam. Di Aceh ia dikenal dengan gelar Malik As Saleh (Malikul Saleh). Dalam Riwayat Raja-Raja Pasai (penulis dan tahun penulis tidak diketahui), diakui bahwa pendiri kerajaan Pasai adalah Merah Silu.

Namun demikian, apabila angka yang disebutkan oleh Parlindungan tersebut dikomparasikan dengan laporan admiral Zheng Zhe (Cheng Ho) maka akan didapat bahwa, hingga tahun 1423, kerajaan Nagur masih berdiri. Didalam buku Zheng Zhe: Bahariawan Muslim Tionghoa (2002) disebut bahwa, admiral tersebut mengunjungi Nagur sebanyak 3 (tiga) kali. Pasukannya sangat terkenal dengan senjata panah beracun dan berhasil menewaskan raja Aceh. Dalam laporan pengelana Tionghoa tersebut, nama Nagur dituliskan dengan ‘Nakkur’; ‘Nakureh’ atau ‘Japur’. Hal senada juga diketahui dalam laporan Ma Huan yakni Ying Yei Seng Lan, dimana nama Nagur yakni ‘Napur’ merupakan kerajaan ‘Batta’

Selanjutnya, dalam laporan Tomme Pires, penguasa Portugis di Malaka (1512-1515), dalam bukunya Summa Oriental terjemahan Cortesao (1944), banyak menyinggung nama Nagur yang berdekatan dengan Aru. Atau dalam tulisan Mendes Pinto yang berjudul Acehs Crusades against the Batak 1539. Demikian pula laporan Marco Polo yang melakukan perjalanan ke Sumatra pada tahun 1292 yakni, Cannibals and Kings: Nothern Sumatra in the 1290s. Pengelana lainnya adalah laksamana Prancis bernama Augustin De Beaulieu yang melakukan perjalanan ke Sumatra (Pasai) pada tahun 1621 dalam tulisannya yang berjudul The Tyranny of Iskandar Muda. Demikian pula pengelana Maroko Ibn Battuta yang singgah di Pasai pada tahun 1345 dalam laporannya The Sultanate of Pasai around 1345.

Kerajaan Nagur juga banyak disebut dalam tulisan-tulisan Melayu seperti yang dituliskan oleh T. Lukman Sinar SH (Pewaris kesultanan Serdang), dalam bukunya Sari Sejarah Serdang Jilid-I (1974) ataupun Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu Sumatra Timur (2007), ataupun TM. Lah Husny dalam bukunya Lintasan Sejarah Peradaban Penduduk Melayu Deli Sumatra Timur, (1976). Demikian pula dalam buku Tarik Aceh Jilid II yang batal diterbitkan. Selanjutnya, dalam tulisan-tulisan versi Karo seperti yang dilakukan oleh Brahmo Putro dalam bukunya Karo dari Zaman ke Zaman, (1984) justru cenderung ditulis dengan emosional, dengan cara meng-Karo-kan ARU, Nagur dan Batak Timur Raya. Sebagaimana diketahui, yang dimaksud dengan ‘Timur Raja’ dalam tulisan pemerintah colonial adalah kawasan Simalungun karena posisinya yang percis berada di pesisir Timur Sumatra Utara.

Terbukanya tabir Sumatra secara heurastik, dimulai saat penguasa Inggris di Bengkulu yakni Thomas Raffles, mengutus William Marsden pada tahun 1770 untuk menyelidiki potensi ekonomi Sumatra. Buku penyelidikan tersebut kini sudah dibukukan dengan judul “The History of Sumatra (2007). Di dalam buku tersebut banyak dituliskan tentang potensi ekonomi di Asahan yang disebutnya dengan term ‘Batta’ (Batak). Kemungkinan yang dimaksud adalah orang Simalungun yang bermukim didaerah Itu. Selanjutnya, pada tahun 1823, Whrite Philips, Gubernur Jenderal Inggris di Penang mengutus John Anderson untuk penyelidikan lebih intensif terhadap potensi ekonomi Sumatra. Buku laporan Anderson yang terkenal itu adalah Mission to the East Cost Sumatra yang diterbitkan pada tahun 1826. Buku tersebut, juga telah mendeskripsikan keadaan di Asahan atau pesisir timur Sumatra. Kuat dugaan bahwa penghuni Asahan pada saat itu adalah orang Simalungun dimana daerah domisili orang Simalungun pada saat itu memanjang hingga Asahan, Batubara dan Pagurawan (Juandaharaya dan Martin Lukito, Tole den Timorlanden das Evanggelium, 2003). Buku yang lebih sempurna, berdasarkan tinjauan akademis dan sistematika ilmiah adalah karangan Edwin M. Loeb (1935) dengan judul Sumatra: Its History and the People. Dalam karangan itu, juga disebut tentang riwayat kerajaan di Simalungun.

Penyelidikan tentang kondisi sejarah, kebudayaan dan penguasaan daerah sangat penting dilakukan terutama terhadap laporan-laporan pemerinatah Kolonial seperti laporan kepurbakalaan (Oudheikundig Verslag, OV), Laporan umum (Algemeen Verslag, AV), laporan Politik (Politiek Verslag), Laporan Penanaman (Cultuur Verslag) atau juga Laporan Serah Terima Jabatan (Memorie van Overgrave), seperti yang diwajibkan dalam tata administrasi kolonial, karena laporan-laporan tersebut banyak menuliskan tentang kondisi wilayah yang sedang dikuasai. Di Simalungun, nama-nama yang mesti diperhatikan adalah Tidemann, Kroesen, Theis, Westenberg, Neumann, Voorhoeve, dan lain-lain.

Keberadaan Nagur (512-1252) seperti dalam buku Tuanku Rao karangan MOP, dikatakan bahwa ayahnya, Sutan Martua Raja (SMR) adalah seorang guru Kristen di Pematang Siantar dan banyak mengumpulkan bahan-bahan sejarah. Hanya saja, dokumen-dokumen tersebut musnah terbakar sebelum sempat ditulis dengan sempurna. Buku Tuaku Rao hanyalah 20% dari sejumlah dokumen yang dikumpulkan oleh SMR. Bisa jadi, laporan SMR tentang Simalungun ikut musnah terbakar.

3. Manuskrip Tentang Nagur

Manuskrip yang ada dan meriwayatkan tentang kerajaan Nagur adalah Parpadanan Na Bolag (PNB). Namun demikian, manuskrip itu membutuhkan analisis tajam serta kehatihatian yang tinggi karena banyak menyebut nama person, peristiwa dan daerah yang kini tidak dapat di compare dengan peta yang ada. Misalnya, dimanakah Padang Rapuhan, atau dimanakah Hararasan, atau Bondailing?. Oleh sebab itu, terhadap manuskrip tersebut mutlak dilakukan Discourse Analysis, sehingga dapat memunculkan makna yang terkandung dalam teks atau naskah.

Literatur Simalungun yang mencoba menyajikan tentang Nagur adalah Hukum Adat Simalungun (Djahutar Damanik, 1984) atau Sejarah Simalungun (TBA Tambak, 1976) tidak banyak mengupas tentang manuskrip dan keberadaan Nagur, namun cenderung menuliskannya berdasarkan oral tradition version. Demikian pula pada buku Pustaha Simalungun yang tersimpan di Perpustakaan Daerah Sumut yakni hasil transliterasi latin oleh JE. Saragih, masih terbatas pada tradisi pengobatan yang ada di Simalungun, tak satupun dalam pustaha tersebut merujuk pada nama ‘Nagur’.

Persoalan lainnya adalah, bahwa riwayat kerajaan Nagur (Nakkureh, Nakkur, Japur) banyak disebut dalam laporan pengelana Eropa dan Tiongkok, namun dimanakah letak daripada kerajaan tersebut masih membutuhkan analisis panjang yang melibatkan Arkeolog dan Sejarawan. Dengan demikian, riwayat kerajaan Nagur dinasti Damanik di Simalungun tersebut masih memerlukan penelitian dan pengkajian secara menyeluruh (komprehensif) terutama dengan melibatkan arkeolog dan sejarawan serta antropolog sehingga riwayat kerajaan besar tersebut semakin sempurna dan berlandaskan perspektif ilmiah. Lagipula, penelitian dan kajian ilmiah, mutlak dilakukan untuk mendukung sejarah lisan yang berkembang dalam masyarakat.

4. Penutup

Berdasarkan persepsi literer (kepustakaan) tersebut diatas, diyakini bahwa kerajaan Nagur pernah eksis di Sumatra Timur tepatnya di Simalungun. Paling tidak hal tersebut dibuktikan dengan adanya catatan-catatan dari pengelana asing yang singgah di Sumatra Timur dari abad ke-6 hingga ke 16.

Demikian pula tersedianya manuskrip yang meriwayatkan kerajaan tersebut, ataupun dikenalnya kerajaan tersebut melalui tradisi lisan. Namun demikian, untuk memperjelas eksisitensi kerajaan tersebut, baiknya dilakukan penelitian dan pengkajian yang melibatkan lintas disiplin sehingga dapat diterima kebenarannya. Paling tidak, saran ini bermanfaat atau ditujukan kepada pemerintah kabupaten Simalungun di Pematang Raya, ataupun pihak-pihak, badan atau instansi yang berwenang, demikian pula lembaga kemasyarakatan Simalungun yang ada.

Penulis: Peneliti pada Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial

Lembaga Penelitian Universitas Ngeri Medan.
BENTENG PUTRI HIJAU: SITUS KERAJAAN ARU DELI TUA SUMATRA TIMUR

BENTENG PUTRI HIJAU: SITUS KERAJAAN ARU
DELI TUA SUMATRA TIMUR

Pengantar
Sejarah peradaban di ujung pulau Andalas dimulai sejak ditemukannya prasasti Lobu Tua Barus (Tapanuli Tengah) yang berangka tahun 1088 M yang menyebut adanya sekitar 1500 orang yang bermukim dikawasan tersebut (Guillot, 2002). Pada umumnya, masyarakatnya adalah pedagang terutama Kapur Barus dan Kemenyan yang banyak ditemukan di pulau Sumatra. Oleh karenanya, dapat dinyatakan bahwa Barus menjadi Bandar perniagaan mancanegara pertama di Sumatra Utara dengan komoditas niaga utamanya yakni Kapur Barus (Champher) dan kemenyan. Diyakini bahwa situs ini berdiri sejak abad ke-6 hingga 11 M dan pasca penetrasi saudagar islam kemudian masyarakatnya terdesak kepedalaman dan membentuk komunitas tersendiri dengan budaya tersendiri pula. Era dimana masuknya Islam di Barus melalui jalur perdagangan ini sekaligus menandai masuk dan berkembangnya agama Islam di ujung pulau Andalas ini.
Situs Lobu Tua Barus adalah situs sejarah tertua (oldest sites) yang telah ditemukan di Sumatra Utara hingga saat ini, kemudian pada periode berikutnya dikenal situs Portibi Padang Lawas Tapanuli Selatan pada abad ke-11. Bukti nyata peninggalan situs Portibi adalah Candi Bahal yang terpengaruh Hindu dan masih eksis hingga kini. Disamping itu, terdapat tiga situs kuno (ancient sites) lainnya yang terletak dikawasan Timur Sumatra Utara yakni Kota Cina (Abad ke 10-13), Kota Rentang (abad 13-14) dan Deli Tua (abad 14-15). Satu situs yang disebut pertama plus Barus dan Portibi telah dicatat oleh Eric M. Oey (1991) dalam bukunya ”Sumatra” dan disebut sebagai kerajaan kuna (ancient kingdom) di Sumatra Utara. Kecuali Kota Cina, dua situs lainnya di kawasan Sumatra Timur yakni Kota Rentang (telah diekskavasi) dan Deli Tua (belum diekskavasi) belum banyak ditulis dan diteliti.

Kerajaan (H)Aru
Sumber-sumber klasik tentang Aru banyak didasarkan pada tulisan penguasa Portugis di Melaka yakni Mendez Pinto, pengembara China, kisah Pararaton maupun Sejarah Melayu. Sumber tersebut mengetengahkan bahwa di Sumatra Utara sekarang terdapat satu kerajaan yang besar yakni (H)Aru. Namun, hingga saat ini belum ada suatu kesimpulan utuh yang menyatakan asal muasal dan lokasi kerajaan Aru, dan lagi disertai adanya tarik menarik antara Karo, Melayu dan Aceh hingga Batak Timur.
Dalam banyak literatur, disebut bahwa Teluk Aru adalah pusat kerajaan ARU dan belum pernah diteliti. Namun, McKinnon menolak apabila kawasan tersebut dinyatakan belum pernah diteliti sekaligus juga menolak apabila Teluk Aru disebut sebagai pusat kerajaan Aru. Teluk Aru telah diteliti pada tahun 1975-1976 dan hasilnya adalah ”Pulau Kompei”. Diakui bahwa terdapat peninggalan di wilayah Teluk Aru, tetapi berdasarkan jalur hinterland kurang mendukung Teluk Aru sebagai satu centrum kerajaan. Seperti diketahui bahwa jalur dari Karo plateau maupun hinterland menuju pantai timur, dari utara ke selatan melalui gunung adalah: Buaya, Liang, Negeri, Cingkem yang menuju ke Sei Serdang maupun ke Sei Deli, Sepuluhdua Kuta, Bekancan, Wampu ke Bahorok. Maupun jalur sungai diantara Sei Wampu bagian hilir sekitar Stabat dan Sei Sunggal ke Belawan. Fokusnya diwilayah pantai diantara Sei Wampu dan Muara Deli (Catatan Anderson tentang pentingnya Muara Deli).
Penulis Karo mengemukakan bahwa (H)Aru adalah asal kata ”Karo” yang berevolusi. Oleh karena itu, kelompok ini mengklaim bahwa masyarakat kerajaan Aru adalah masyarakat yang memiliki clan Karo dan didirikan oleh clan Kembaren. Walau demikian, penulis Karo seperti Brahmo Putro (1979) sependapat dan mengakui bahwa centrum kerajaan ini berpindah-pindah hingga ke Aceh, Deli Tua, Keraksaan (Batak Timur), Lingga, Mabar, maupun Barumun. Disebutkan bahwa (H)Aru berada di Balur Lembah Gunung Seulawah di Aceh Besar sekarang yang pada awalnya juga telah banyak dihuni oleh orang Karo, dan telah ada sebelum kesultanan Aceh pertama yakni Ali Mukhayat Syah pada tahun 1492-1537. Lebih lanjut disebut bahwa kerajaan (H)Aru Balur ditaklukkan oleh Sultan Aceh pada tahun 1511 dalam rencana unifikasi Aceh hingga ke Melaka dan salah seorang rajanya clan Karo dan keturunan Hindu Tamil menjadi Islam bersama seluruh rakyatnya dan bertugas sebagai Panglima Sultan Aceh di wilayah Batak Karo.
Demikian pula penulis Melayu yang mengemukakan bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan Melayu yang sangat besar pada zamanya, lokasi kerajaanya tidak menetap akibat gempuran musuh terutama yang datangnya dari Aceh. Hal ini telah banyak dicatat oleh Lukman Sinar dalam jilid pertama bukunya dengan judul Sari Sedjarah Serdang (1986). Menurutnya, nama ARU muncul pertama kalinya dalam catatan resmi Tiongkok pada saat ARU mengirimkan misi ke Tiongkok pada tahun 1282 pada era kepemimpinan Kublai-Khan. Demikian pula dalam buku ”Sejarah Melayu” yang banyak menyebut tentang kerajaan ARU. Berdasarkan literatur tersebut, Lukman Sinar dalam penjelasan lebih lanjut mengemukakan bahwa pusat kerajaan ARU adalah Deli Tua dan telah menganut Islam.
Namun, seperti yang telah diingatkan oleh Prof. Wolters bahwa data-data yang bersumber dari tulisan China dari abad ke 13-15 bukan nyata dari penelitian namun sebatas pengamatan pintas. Oleh sebab itu, pembuktian terhadap tulisan itu harus diarahkan kedalam tanah (ekskavasi) yakni untuk merekontruksi jejak-jejak peradaban (H)ARU di lokasi dimaksud.
Barangkali, yang dimaksud oleh tulisan-tulisan tersebut adalah Kota Rentang karena berdasarkan bukti-bukti arkeologis banyak ditemukan batu kubur (nisan) yang terbuat dari batu Cadas (Volcanoic tuff) dengan ornamentasi Jawi dan nisan sejenis banyak ditemukan di tanah Aceh. Sedangkan tanda-tanda ARU Deli Tua dinyatakan islam hampir tidak diketemukan selain sebuah meriam buatan portugis bertuliskan aksara Arab dan Karo. Lagi pula, berdasarkan laporan kunjungan admiral Cheng Ho yang mengunjungi Pasai pada tahun 1405-1407 menyebut bahwa nama raja ARU pada saat itu dituliskan So-Lo-Tan Hut-Sing (Sultan Husin) dan membayar upeti ke Tiongkok. Kemudian, dalam ”Sejarah Melayu” juga diceritakan suatu keadaan bahwa ARU telah berdiri sekurang-kurangnya telah berusia 100 tahun sebelum penyerbuan Iskandar Muda pada tahun 1612 dan 1619. Dengan demikian, kuat dugaan bahwa centrum ARU yang telah terpengaruh Islam yang dimaksud pada laporan-laporan penulis Cina dan ”Sejarah Melayu” tersebut adalah Kota Rentang.
Diyakini bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan yang besar dan kuat sehingga dianggap musuh oleh kerajaan Majapahit. Hal ini dapat dibuktikan dari sumpah Amukti Palapa sebagaimana yang ditulis dalam kisah Pararaton (1966), yaitu: Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah mada: ”Lamun awus kalah nusantara isun amuktia palapa, amun kalah ring Guran, ring Seran, Tanjung Pura, ring HARU, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti Palapa”. Hal senada juga dikemukakan oleh Muh. Yamin dalam bukunya dengan judul ”Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara ”(2005).
Demikian pula dalam hikayat ”Parpadanan Na Bolag” yang mengisahkan kerajaan ”Nagur” yakni kerajaan Batak Timur Raya. Dalam catatan pengembara asing, kerajaan ini sering disebut ”Nakur”, atau ”Nakureh” maupun ”Jakur”. Kerajaan ini, menurut M.O. Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao (1964) berdiri pada abad ke 6-12. Rajanya yang terkenal adalah Mara Silu yang oleh penulis Karo disebut bermarga Ginting Pase dan masyarakat Batak Timur Raya menyebut marga Damanik. Nama Mara Silu banyak disebut didalam ”Hikayat Raja-raja Pasai”, ”Sejarah Melayu”, dan ”Parpadanan Na Bolag” dan diyakini sebagai Raja Nagur dari Batak Timur Raya. Menurut catatan MOP dalam bukunya ”Tuanku Rao” sepenakluk Aceh terhadap ”Nagur”, Mara Silu dan laskar yang tersisa menghancurkan bandar Pase (Aceh) pada tahun 1285 dan masuk Islam serta berganti nama menjadi Malikul Saleh, Sultan Samudra Pase yang pertama. Sejak saat itu, kerajaan Nagur tidak lagi ditemukan dalam tulisan-tulisan selanjutnya.
Dari penjelasan diatas diketahui bahwa berdasarkan periodeisasinya maka kerajaan ARU berdiri pada abad ke-13 yakni pasca runtuhnya kerajaan NAGUR pada tahun 1285. Pusat kerajaan ARU yang pertama ini adalah Kota Rentang dan telah terpengaruh Islam yang sesuai dengan bukti-bukti arkeologis yakni temuan nisan dengan ornamentasi Jawi yang percis sama dengan temuan di Aceh. Demikian pula temuan berupa stonewares dan earthenwares ataupun mata uang yang berasal dari abad 13-14 yang banyak ditemukan dari Kota Rentang. Bukti-bukti ini telah menguatkan dugaan bahwa lokasi ARU berada di Kota Rentang sebelum diserang oleh laskar Aceh.
Tentang hal ini, McKinnon (2008) menulis:”Aru was attacked by Aceh and the ruler killed by subterfuge and treachery. His wife fled into the surrounding forest on the back of an elephant and eventually made her way to Johor, where she married the ruling Sultan who helped her oust the Acehnese and regain her kingdom”. Pada akhirnya, sebagai dampak serangan Aceh yang terus menerus ke Kota Rentang, maka ARU pindah ke Deli Tua yakni pada pertengahan abad ke-14, dan pada permulaan abad ke-15 Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar mulai berkuasa di Aceh. McKinnon (2008) menulis “a sixteenth century account by the Portuguese writer Pinto states that Aru was conquered by the Acehnese in 1539 and recounts how the Queen of Aru made her way to Johor and the events that transpired thereafter”.

Kisah Putri Hijau
Diatas telah disebut bahwa pasca serangan Aceh ke ARU terdahulu, telah menyebabkan berpindahnya ARU ke Deli Tua. Bukti-bukti peninggalan ARU Deli Tua adalah seperti benteng pertahanan (kombinasi alam dan bentukan manusia) yang masih bisa ditemukan hingga saat ini. Catatan resmi tentang benteng ini dapat diperoleh dari catatan P.J. Vet dalam bukunya Het Lanschap Deli op Sumatra (1866-1867) maupun Anderson pada tahun 1823 dimana digambarkan bahwa di Deli Tua terdapat benteng tua berbatu yang tingginya mencapai 30 kaki dan sesuai untuk pertahanan. Menurut Pinto, penguasa Portugis di Malaka tahun 1512-1515 bahwa ibukota (H)ARU berada di sungai ‘Panecitan’ yang dapat dilalui setelah lima hari pelayaran dari Malaka. Pinto juga mencatat bahwa raja (H)ARU sedang sibuk mempersiapkan kubu-kubu dan benteng-benteng dan letak istananya kira-kira satu kilometer kedalam benteng. (H)ARU mempunyai sebuah meriam besar, yang dibeli dari seorang pelarian Portugis.
Temuan lainnya adalah mata uang Aceh yang terbuat dari emas, dimana masyarakat disekitar benteng masih kerap menemukanya. Temuan ini sekaligus menjadi bukti bahwa Aceh pernah menyerang ARU Deli Tua dengan menyogok pengawal kerajaan dengan mata uang emas. Selanjutnya, menurut Lukman Sinar (1991) di Deli Tua pada tahun 1907 dijumpai guci yang berisi mata uang Aceh dan kini tersimpan di Museum Raffles Singapura. Temuan lainnya adalah berupa keramik dan tembikar yang pada umumnya percis sama dengan temuan di Kota Rentang. Temuan keramik dan tembikar ini adalah barang bawaan dari Kota Rentang pada saat masyarakatnya mencari perlindungan dari serangan Aceh.
Hingga saat ini, temuan berupa uang Aceh, keramik dan tembikar dapat ditemukan disembarang tempat disekitar lokasi benteng. Akan tetapi, dari bukti-bukti yang ada itu, tidak diketahui secara jelas apakah ARU Deli Tua telah menganut Islam. Pendapat yang mengemukakan bahwa ARU Deli Tua adalah Islam didasarkan pada sebuah meriam bertuliskan Arab dengan bunyi: ’Sanat… alamat Balun Haru’ yang ditemukan oleh kontrolir Cats de Raet pada tahun 1868 di Deli Tua (Lukman Sinar, 1991). Akan tetapi di tengah meriam tersebut terdapat tulisan buatan Portugis. Hal ini senada dengan tulisan Pinto bahwa ARU memiliki sebuah meriam yang besar. Meriam inilah yang kemudian di sebut dalam kisah Putri Hijau ditembakkan secara terus menerus hingga terbagi dua.
Faktor penyebab serangan Aceh ke ARU yang berlangsung terus menerus adalah dalam rangka unifikasi kerajaan dalam genggaman kesultanan Aceh. Lagipula, seperti yang telah disebutkan diatas bahwa ARU terdahulu ditaklukkan oleh laskar Aceh yang mengakibatkan berpindahnya ARU ke Deli Tua. Hal ini menjadi jelas bahwa hubungan diplomatik antara ARU dengan Aceh tidak pernah harmonis. Dalam kisah Putri Hijau disebut bahwa faktor serangan Aceh ke Deli Tua adalah akibat penolakan sang Putri untuk dinikahkan dengan Raja Aceh.
Mengingat kuatnya benteng pertahanan ARU Deli Tua yang ditumbuhi bambu, sehingga menyulitkan serangan Aceh. Menurut catatan Pinto, dua kali serangan Aceh ke Deli Tua mengalami kegagalan. Pada akhirnya pasukan Aceh melakukan taktik sogok yakni dengan memberikan uang emas kepada pengawal benteng. Dalam kisah Putri Hijau disebut bahwa pasukan Aceh menembakkan meriam berpeluru emas, sehingga pasukan ARU berhamburan untuk mencari emas. Penyogokan pasukan ARU yang dilakukan oleh pasukan Aceh, menjadi penyebab kehancuran kerajaan ARU Deli Tua. Benteng dapat direbut dan rajanya dapat ditewaskan.
Permaisuri kerajaan dengan laskar yang tersisa mencoba merebut Benteng, tetapi tetap gagal. Akhirnya permaisuri dengan sejumlah pengikutnya berlayar menuju Malaka dan menghadap kepada gubernur Portugis. Tetapi ia tidak disambut dengan baik. Akhirnya permaisuri menjumpai Raja Johor, Sultan Alauddin Riayatsyah II dan bersedia menikah dengan raja Johor apabila ARU dapat diselamatkan dari penguasaan Aceh. Akan tetapi, ARU telah dikuasai oleh Aceh yang dipimpin oleh panglima Gocah Pahlawan. Akhirnya permaisuri raja ARU menikah dengan raja Johor. Gocah Pahlawan sebagai wali negeri Aceh di ARU yakni kesultanan DELI.

Putri Hijau (Green Princess) adalah salah satu ’cerita’ kepahlawanan (folk hero) yang dikenal dan berkembang luas, paling tidak pada tiga kelompok suku yakni Melayu, Karo dan Aceh. Sebagai cerita rakyat (folktale) kisah Putri Hijau pada awalnya merupakan tradisi lisan (oral) milik bersama masyarakat (communal), berasal dari satu daerah (local) dan diturunkan secara informal (Toelken, 1979:31). Kisah ini memiliki sifat oral dan informal sehingga cenderung mengalami perubahan baik penambahan maupun pengurangan. Oleh karenanya, tidak mengherankan apabila dikemudian hari terdapat versi cerita yang berbeda-beda. Wan Syaiffuddin (2003) mengemukakan versi cerita dimaksud seperti: Syair Puteri Hijau (A. Rahman, 1962); Sejarah Putri Hijau dan Meriam Puntung (Said Effendi, 1977); Puteri Hijau (Hans M. Nasution, 1984) dan Kisah Puteri Hijau (Burhan AS, 1990).
Adanya unsur-unsur pseudo-historis, yakni anggapan kejadian dan kekuatan yang digambarkan luar biasa dalam kisah Putri Hijau cenderung merupakan tambahan dari kisah yang sebenarnya dengan tujuan euhemerisme yakni menimbulkan kekaguman para pendengarnya. Sejalan dengan hal ini, seperti yang diingatkan oleh Baried (1985) bahwa ”kisah’ cenderung menunjukkan cerita yang benar-benar terjadi. Dengan demikian, kisah Putri Hijau adalah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi (Husny, 1975; Said, 1980 dan Sinar, 1991). Dengan begitu, sifat imajinatif-diluar kelogisan nalar manusia-yang terdapat dapat kisah tersebut tidak perlu ditafsirkan secara mendalam karena sifat itu di buat untuk tujuan euhemerisme.

Akan tetapi, penelitian dan ekskavasi arkeologi belum pernah dilakukan sehingga menyulitkan rekontruksi masa lalu ARU Deli Tua.

Kearah Penelitian Arkeologi
Penelitian dan ekskavasi arkeologis telah dilakukan di Kota Cina terutama oleh Edward McKinnon (1973, 1976, 1978), Mc. Kinnon et al., (1974), Bronson (1973), Suleiman (1976), Ambary (1978, 1979a, 1979b), Miksic, (1979), Wibisono (1981) dan Manguin (1989). Temuan-temuan spektakuler di situs seluas 36 Ha ini telah disimpan rapi di Museum Negeri Sumatera Utara berupa keramik, mata uang, batu berfragmen candi ataupun archa. Temuan-temuan hasil penggalian arkeologis di Kota Cina berupa stonewares dan earthenwares dari dinasti Sung, Yuan dan Ming, archa Wisnu dan Lakhsmi serta Budha, menjelaskan bahwa kawasan ini terpengaruh oleh Hindu dan Budha. Demikian pula, kontruksi candi yang terpendam sedalam 60 cm dibawah permukaan tanah. Disamping itu, ditemukan pula jenis mata uang yang berasal dari mancanegara seperti Tiongkok, Burma, India Selatan maupun Thailand dan Muang Thai.
Situs Kota Rentang seluas 500-1000 Ha ini diteliti dan dilakukan penggalian oleh McKinnon pada bulan Maret 2008. Temuan penting dan berharga dari penelitian dan penggalian tersebut adalah ditemukannya stonewares dan earthenwares terutama dari dinasti Yuan dan Ming, mata uang maupun batu kubur (nisan) yang tersebar luas di situs sejarah (historical sites) tersebut. Temuan berupa batu kubur yang percis sama dengan di Aceh, sekaligus menguatkan dugaan bahwa kawasan ini pernah dikuasai oleh Islam terutama yang datang dari Aceh. Namun demikian, sebelum di kuasai oleh Aceh, kawasan ini lebih dahulu dipengaruhi oleh Hindu maupun Budha karena adanya temuan batu dan kayu besar yang diduga bekas bangunan candi.
Daerah ini dijelajahi oleh E. E. McKinnon, (Arkeolog Inggris) pada tahun 1972, sebelum memutuskan menggali di Kota Cina. Beliau menulis: ”beberapa nisan batu Aceh yang besar dan signifikan yang ada di Kota Rentang pada tahun 1972 sekarang sudah menghilang, tetapi dari jenis-jenisnya yang dilihat dahulu, maka mendukung anggapan lokasi di Kota Rentang sebagai pemukiman orang-orang bangsawan. Sama juga dengan mutu keramik dari awal abad ke-13 yang telah ditemui dilokasi-lokasi yang sama, yaitu dari misi pelayaran Laksamana Cheng Ho (Zhenghe) dan kunjungannya ke ARU pada tahun 1411-1431”.
Pendudukan Aceh di Kota Rentang, telah mengubah populasinya dengan warna Islam. Batu nisan di impor dari Aceh dan menjadi pertanda bagi orang meninggal dunia dan umumnya mereka itu adalah kaum bangsawan Kota Rentang. Dan yang terpenting adalah dibentuk dan didirikannya sebuah kerajaan dengan corak Islam yang dikemudian hari dikenal dengan ARU (abad ke-13). Hal ini senada dengan bukti-bukti yang ada berupa tulisan dan laporan yang menyebutkan bahwa nama kerajaan (H)Aru telah disebut pada abad ke -13.
Situs Benteng Putri Hijau (Ijo) terdapat di Deli Tua-Namu Rambe dan berdasarkan survei yang dilakukan oleh John Miksic (1979) luasnya adalah 150 x 60 M2 atau 360 Ha. Letaknya percis diantarai dua lembah (splendid area) yang disebelah baratnya mengalir Lau Patani/Sungai Deli. Temuan penting dari situs ini adalah ditemukannya benteng pertahanan yang terbuat secara alami maupun bentukan manusia. Situs ini termasuk dalam kategori local genius terutama dalam menghadapi musuh, yakni musuh yang datang menyerang harus terlebih dahulu menyeberangi sungai, kemudian mendaki lereng bukit (benteng alam) dan akhirnya sampai di benteng bentukan manusia. Oleh karenanya, musuh memerlukan energi yang cukup kuat untuk bisa sampai kepusat benteng. Menurut McKinnon, jenis benteng seperti ini banyak terdapat di Scotlandia maupun Inggris sebelum abad pertengahan.
Temuan lain adalah banyaknya keramik ataupun tembikar yang menunjuk tarik yang hampir sama dengan temuan di Kota Rentang, juga temuan mata uang (koin) Dirham, mata uang emas dari Aceh yang banyak ditemukan oleh masyarakat sekaligus menjadi bukti sejarah bahwa pasukan Aceh pernah menaklukkan kawasan ini dengan menembakkan meriam ber-peluru emas sebagaimana yang dikisahkan dalam riwayat Putri Hijau (green princess). Setelah diserang oleh laskar Aceh pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar yang berkuasa tahun 1537-1571, (bukan Iskandar Muda) pada tahun 1564, nama ARU tidak pernah diberitakan lagi. Serangan Aceh yang kedua ini adalah serangan yang terhebat dimana seluruh kerajaan ARU habis dibakar dan yang tersisa hanyalah Benteng yang masih eksis hingga sekarang. Hal ini senada dengan pendapat Mohammad Said (1980) dimana peperangan yang terjadi pada masa sultan Iskandar Muda (1612-1619) tidaklah sehebat pertempuran pada masa Sultan Al-Kahar. Lagi pula, pada masa kepemimpinan Iskandar Muda ini, tidak terdapat suatu tulisan bahwa Melayu di pimpin oleh Sultan Perempuan. Diyakini bahwa lokasi ini merupakan pusat kerajaan Aru Deli Tua dimana kisah Puteri Hijau sangat popular dan banyak diketahui oleh masyarakat.

Bandar Niaga
Kota Cina dan Kota Rentang dipercaya merupakan bandar internasional yang sangat sibuk dengan frekuensi niaga yang cukup tinggi. Hal lain dibuktikan dengan banyaknya temuan keramik dan mata uang yang berasal mancanegara seperti Tiongkok, China, Vietnam, Burma, Srilangka dan Arab. Arus perdagangan yang tinggi tersebut terutama ditujukan untuk perolehan komoditas seperti Kapur Barus dan Kemenyan maupun stonewares dan earthenwares. Jika merujuk pada dinasti Cina, maka keramik dan tembikar tersebut berasal dari Song, Yuan dan Ming. Tidak mustahil apabila material tersebut dibawa langsung dari negara asalnya untuk diperdagangkan atau dipertukarkan dengan kemenyan atau Kapur Barus dengan masyarakat setempat.
Jalur perdagangan sungai (riverine) merupakan entrance ke pusat perdagangan seperti Kota Cina dan Kota Rentang melalui sungai Deli, sungai Wampu dan sungai Sunggal yang bermuara ke Belawan (Belawan ertuary). Tentang hal ini, Anderson (1823) telah mengingatkan pentingnya jalur-jalur Sungai besar dan bermuara langsung ke Belawan. Lagipula, temuan bongkahan perahu yang ditemukan di kedua lokasi (Kota Rentang dan Kota Cina) menjadi bukti nyata bahwa kedua area ini menjadi bandar niaga yang padat dan sibuk. Hanya saja proses sedimentasi yang berlangsung ratusan tahun ini telah mengakibatkan kedua daerah ini seakan menjauh dari laut.
Situs yang telah ditemukan di pesisir pantai Timur Sumatra ini menandakan bahwa wilayah ini pernah menjadi bandar niaga bertaraf internasional sesuai zamanya, sekaligus menjadi centrum kerajaan Aru yang besar dan penting dalam menjelaskan peradaban Sumatra Timur. Namun, kekurang perhatian masyarakat dan instansi terkait terhadap situs-situs sejarah menjadi faktor utama (main factor) penyebab kemusnahan situs ini. Ironisnya, ketiga situs ini tak satupun yang terawat dan bahkan semuanya hampir musnah. Kota Cina telah diserobot dan diduduki oleh masyarakat dengan menjadikannya sebagai areal pemukiman dan pertanian, sama halnya dengan Kota Rentang. Sedangkan Benteng Putri Hijau terancam musnah sebagai dampak pembangunan perumahan yang percis menempel ke badan Benteng. Bahkan, sebagian badan benteng telah dirusak untuk memberi jalan ke perumahan yang tengah dibangun.

SEJARAH MARGA-MARGA DI SIMALUNGUN

Marga Simalungun merujuk kepada nama keluarga atau marga yang dipakai di belakang nama depan masyarakat Simalungun yang berasal dari daerah Kabupaten Simalungun. Ada 4 marga asli dari Simalungun: Damanik, Purba, Saragih dan Sinaga. Keempat marga tersebut berasal dari marga raja-raja di Simalungun yang bermufakat untuk tidak saling menyerang. Beberapa marga dari luar Simalungun kemudian menganggap dirinya sebagai bagian dari 4 marga tersebut ketika mereka menetap di Simalungun. Sebagai suku yang menganut Paterilinear, marga pada suku Simalungun diturunkan melalui garis Ayah, oleh karena itu orang yang memiliki marga yang sama dianggap sebagai kakak-adik sehingga tidak diperbolehkan untuk saling menikah.

Revolusi Sosial Berdarah di Simalungun Tahun 1946

Oleh Juandaha Raya Purba Dasuha

“Ketika itu tidak mungkin kita berbuat sesuatu. Siapa yang mencoba-coba menghalang-halangi karena terlihat sudah melampaui batas akan turut musnah dalam arus pergolakan. Maka dalam waktu singkat segala barang-barang yang ada dalam istana berantakan atau lenyap bersama penghuni-penghuninya yang dijagal dengan buas”. Dr. Marnixius Hutasoit-mantan pejabat RI di Pematangsiantar tahun 1946.

A.      Pendahuluan

Sebagian orang Simalungun tidak sependapat dengan penulis tentang topik yang sensitif ini. Mereka mengatakan bahwa isu Revolusi Sosial tidak pantas untuk dibuka kembali, biarlah kejadian itu berlalu seiring dengan beralihnya waktu. Justru hal ini yang mendorong penulis untuk lebih jauh mengetahui apa sih Revolusi Sosial itu? Ketika saya membaca buku Anthony Reid yang berjudul Perjuangan Rakyat, barulah saya paham, mengapa orang Simalungun seakan tabu membicarakan Revolusi Sosial itu, sebab menyangkut sejarah perjalanan orang Simalungun yang mengalami kekerasan dan pelanggaran HAM berat, di mana satu generasi kaum terpelajar orang Simalungun yang kebetulan berlatar belakang kaum bangsawan Simalungun dibantai dengan sangat sadis dan kejam di luar perikemanusiaan oleh orang-orang yang berhati iblis atas nama “Kemerdekaan Republik Indonesia”.

B.      Simalungun Menjelang Revolusi Sosial

Daerah Simalungun yang penduduk aslinya adalah halak (suku bangsa) Simalungun berada di antara suku-suku Batak lainnya, seperti Tapanuli yang dihuni suku Batak Toba dan Pakpak, Karo dan di timur dekat pantai berdiam orang-orang Melayu. Sejak abad XIII diberitakan bahwa orang Simalungun sudah bersentuhan dengan budaya Jawa-Hindu yang dibuktikan dengan pemakaian destar batik sebagai tutup kepala laki-laki Simalungun. Sedangkan budaya India-Hindu diperkirakan sudah hadir di antara orang Simalungun setidaknya sejak abad ke VI dengan hadirnya Kerajaan Nagur yang menurut kisah orang-orangtua berketurunan dari tanah India nun jauh di seberang pulau Sumatra. Seterusnya pengaruh Aceh pun masuk ke Simalungun lewat vazal-vazalnya di pesisir (Serdang dan Deli) dengan kehadiran lembaga konfederasi Raja Marompat yang terdiri dari kerajaan-kerajaan Panei, Dolog Silou, Siantar dan Tanoh Jawa pada abad XV. Demikian seterusnya sampai kedatangan penjajah Belanda ke Simalungun sejak akhir abad XIX yang membawa perubahan sosial yang besar di Simalungun lewat kehadiran para planters (tuan-tuan kebun), para buruh kuli kontrak dari Jawa dan petani penggarap sawah dari Tapanuli Utara (Batak Toba) yang sengaja didatangkan Belanda demi menunjang kelanggengan usaha para planters yang menguntungkan keuangan kolonial itu. Seterusnya demi menghempang masuknya pengaruh Islam yang semakin meluas di kalangan suku Simalungun, maka didatangkanlah suku Batak Toba Kristen sebagai penyeimbang populasi (dan malahan melampaui populasi penduduk asli). Dengan demikian orang Simalungun semakin terjepit dan menjadi kelompok minoritas di kampungnya sendiri.

Meskipun demikian, rupa-rupanya pemerintah Belanda yang sudah menguasai daerah Simalungun sejak tahun 1888 itu (takluknya Tanoh Jawa, Tanjung Kasau dan Siantar) dan dipatahkannnya perlawanan sekelompok masyarakat di Raya oleh Rondahaim yang wafat 1891 masih mempertahankan struktur sosial masyarakat Simalungun yang berpola kerajaan itu. Hal ini memang disengaja oleh pemerintah kolonial dalam rangka penghematan anggaran dan mempermudah pengawasannya atas daerah ini, mereka tidak perlu repot membentuk struktur pemerintahan baru, sebab daerah Simalungun sudah diatur secara struktur birokrasi yang berpola monarki dengan pusat pemerintahan yang disebut pamatang tempat kedudukan raja dan para pejabat-pejabat kerajaannya. Demikianlah sampai masuknya dan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 daerah Simalungun  berdiri atas pemerintahan tersendiri yang terbagi atas kerajaan-kerajaan (urung) yaitu: Tanoh Jawa, Siantar, Panei, Raya, Purba, Dolog Silou dan Silimakuta. Daerah Simalungun sendiri berada dalam lingkup wilayah Propinsi Sumatera Timur yang berkedudukan di Medan. Bersama etnis Melayu dan Karo, suku Simalungun diakui oleh para antropolog dan sejarawan sebagai penduduk asli (native groups) daerah Sumatera Timur.[1]

Sesudah kekalahan Jepang dan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia di Jakarta yang wilayahnya diklaim meliputi bekas daerah kekuasaan Hindia Belanda (dengan demikian termasuk Sumatera Timur) pada 17 Agustus 1945. Untuk daerah Sumatera Utara deklarasi kemerdekaan diumumkan kemudian tanggal 30 September 1945 dalam suatu pawai para pemuda nasionalis di Medan ibukota keresidenan Sumatera Timur. Semangat kemerdekaan yang besar di kalangan rakyat tidak diikuti semangat serupa di kalangan kaum bangsawan. Sebaliknya kaum aristokrat Sumatera Timur itu dengan terang-terangan menunjukkan sikap yang menyebabkan kebencian di kalangan pendukung kemerdekaan; mereka berharap kedatangan Belanda kembali akan merestorasi kedudukan mereka sebelum perang. Akibatnya pecah ketegangan di antara kaum pergerakan nasionalis Indonesia dengan para aristokrat itu yang menyebabkan garis di antara kedua kelompok itu semakin tajam perbedaannya. Gaya hidup serba kemewahan dan keborosan serta kesombongan kaum aristokrat Melayu semakin menuai kebencian dan dendam di antara rakyat yang hidup dalam kemiskinan dan serba kekurangan. Khususnya terhadap sultan Langkat dan sultan Deli yang merupakan penguasa pribumi Melayu yang cukup kaya dengan keuntungan minyaknya dan sewa atas tanah perkebunan dari para planters. Situasi rawan yang seperti ini sudah pasti menjadi api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa meledak dan dengan sangat baik sekali dimanfaatkan kaum berhaluan kiri, khususnya orang-orang Komunis. Gagasan komuis sendiri sudah sejak 1925 masuk ke Sumatera di bawah pimpinan Sutan Said Ali. Setelah pecah pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera pada 1926-1927 para tokoh-tokoh PKI banyak yang ditangkap dan dibuang Belanda ke Boven Digul Papua. Di antara yang dibuang itu terdapat seorang pemuda Batak Toba terpelajar berpendidikan Belanda, Urbanus Pardede yang kelak memimpin aksi Revolusi Sosial di Simalungun dan menggantikan Maja Purba sebagai Bupati Simalungun.[2] Selanjutnya Xarim MS (Mau Senang) seorang ahli pidato dan tokoh komunis terkemuka di Aceh yang sudah malang-melintang di gerakan PKI sejak tahun 1926-1927. Pada zaman Jepang dia berhasil mengambil simpati sunseibucho (Gubernur Jepang) Nakashima dan membentuk organisasi BOMPA (Badan Oentoek Membantoe Pertahanan Asia).[3] Selain itu masih terdapat nama Saleh Umar seorang pemimpin nasionalis yang sudah memimpin PNI, Partindo dan Gerindo sejak zaman Belanda. Kemudian Jakub Siregar anak Martua Raja Siregar yang aktif di politik bersama dengan Saleh Umar. Mereka kemudian membentuk dan memimpin pada tahun 1944 organisasi Ken Ko Ku Tui Sin Tai atau Barisan Harimau Liar di bawah pelatihan dari Inoue seorang perwira Jepang.[4] Organisasi ini diresmikan secara rahasia pada 20 Maret 1945 sebagai suatu organisasi militer, dengan Inoue sebagai komandan, Jacob Siregar sebagai wakil komandan, Saleh Umar sebagai kepala staf dan Abdullah Jusuf dan Nulung Sirait sebagai perwira staf. Para pemuda direkrut untuk dikirim mengikuti pelatihan Talapeta dalam bidang pertanian, strategi militer dan ajaran nasionalisme selama satu sampai tiga bulan. Jumlah kadernya sekitar 50000 orang yang terdiri dari kaum tani dan nelayan dari etnis Batak Toba, Simalungun dan Karo yang beroperasi di dataran tinggi Sumatra Timur.[5] Selanjutnya masih ada nama Luat Siregar sahabat karib Xarim MS yang menjadi anggota PKI sejak 1945 dan pernah menjabat residen Sumatera Timur (April-September 1946) setelah berhasil menyingkirkan Tengku Hafas kerabat Sultan Deli dari Bedagai. Lalu dr. Mohammad Amir seorang ahli jiwa dokter pribadi Sultan Langkat yang menjabat Wakil Gubernur Sumatera yang setelah pecah Revolusi Sosial membelot ke pihak Belanda (isterinya seorang Belanda). Sedangkan Saragihras sebagai komandan BHL di Simalungun lebih berperan sebagai eksekutor atas perintah dari para aktor intelektual di atas.

Ada kalimat bernada provokatif dari buku Batara Sangti Simanjuntak: “Maka tidak heran apakala revolusi sosial meletus pada bulan Maret-April 1946, lebih berkecamuk di daerah Simalungun, di mana banyak jatuh korban di pihak raja-raja, pegawai dan penghulu-penghulu yang memegang peranan dalam aksi-aksi penindasan rakyat itu, yakni dipelopori oleh A. E. Saragih alias Saragih Ras pimpinan Barisan Harimau Liar yang terkenal dan Urbanus Pardede dari PKI (yang menjadi Bupati Kabupaten Simalungun pertama sesudah revolusi sosial tersebut)”[6] Benarkah statement di atas? Perhatikan kalimat yang dia tulis di halaman 187: “Hasil pembangunan Simalungun yang begitu rupa, merupakan durian runtuh tiba-tiba; menyebabkan kantong pihak raja-raja dan kas pemerintahan swapraja-swapraja Simalungun mendadak dalam waktu singkat terus kaya-raya. Dengan sendirinya pihak raja-raja menjadi mewah terutama Siantar, Tanah Jawa, Pane dan Raya. Kemewahan inilah yang menyebabkan raja-raja bertambah angkuh dan bersifat feodal. Sedang orang-orang Toba yang berjiwa dinamis dan demokratis itu memandang … tidak lebih dari saudaranya sendiri sebagai kepala masyarakat hukum adat Dalihan Natolu … sikap mana sebaliknya dipandang … pihak raja-raja tidak menghormatinya atau menentang mereka”.

Saya lalu menanyakan tentang kebenaran “raja-raja menindas rakyat” yang diutarakan oleh Batara Sangti tersebut kepada Tuan Kamen Purba Dasuha putera raja Panei terakhir dan Tuan Djariaman Damanik Raja Muda Sidamanik terakhir. Dengan nada diplomatis, Tuan Kamen balik bertanya kepada penulis, “Apakah kaum pendatang tidak pantas untuk menghormati dan tunduk kepada aturan pemerintah yang berlaku di Panei?” Dengan menunjuk persawahan yang luas di sekitar Pamatang Panei sampai ke Sabah Dua, Tuan Kamen berkata, “Kalau ayah saya menindas pendatang dari Tapanuli ini, tidak mungkin mereka dapat memiliki persawahan dan pemukiman yang luas di Panei ini. Justru kami sebagai ahliwaris raja Panei yang akhirnya kebagian lahan warisan yang paling sedikit dibanding kaum pendatang”.[7] Sementara itu Tuan Djariaman Damanik juga berkata senada dengan Tuan Kamen Purba Dasuha, dia mengatakan bahwa jika Tuan Sidamanik menindas para pendatang dari Tapanuli tidak akan mungkin penduduk Tapanuli yang pindah ke Sidamanik melampaui jumlah penduduk asli Simalungun dan menguasai tanah yang lebih luas dari keturunan Tuan Sidamanik.[8]

Dari buku yang ditulis Batara Sangti Simanjuntak itu tergambar sekilas bagaimana ketegangan etnis yang sempat terjadi di Simalungun sebagai ekses dari migrasi kaum pendatang Batak Toba ke Simalungun dengan penduduk asli Simalungun. Perlu diingat sejak masuknya para planter yang didukung pemerintah kolonial Belanda, praktis kekuasaan dan pengaruh penduduk asli Simalungun semakin terabaikan. Sepertiga atau 151.000 hektar (luas Simalungun 441.380 hektar) berada dalam penguasaaan para pengusaha perkebunan asing.[9] Sementara itu penduduk asli Simalungun merosot jumlahnya menjadi kelompok minoritas (69.852 jiwa), migran Batak Toba (26.531 jiwa), migran lain kebanyakan orang Jawa (23.653 jiwa) dan kuli kontrak orang Jawa (44.040 jiwa). Penduduk orang Eropa 816 jiwa dan Timur Asing 10.865 jiwa.[10] Persoalan perebutan lahan garapan di antara kaum pendatang Batak Toba itu menjadi perkara yang memusingkan raja-raja Simalungun; sementara penduduk asli semakin terpinggirkan dan akhirnya pindah ke daerah yang relatif tandus di pegunungan, khususnya di sekitar gunung Simbolon. Di Pematangsiantar sendiri kota itu semakin kehilangan indentitas aslinya sebagai kediaman tradisional suku Simalungun, identitas pendatang semakin dominan, khususnya identitas Batak Toba.[11] Data-data ini menunjukkan bahwa sesungguhnya akibat politik kolonial Belanda, penduduk asli Simalungun yang berada dipihak yang sangat dirugikan dibanding para pendatang, terutama di daerah konsentrasi perkebunan dan persawahan di Simalungun Bawah.[12] Dengan demikian pernyataan di buku-buku sejarah selama ini yang menyatakan ketertindasan rakyat oleh para kaum aristokrat Simalungun pantas untuk diteliti kembali kebenarannya.

 

C.      Revolusi Sosial Pecah di Simalungun

Secara teoritis, revolusi adalah wujud perubahan sosial paling spektakuler; sebagai tanda perpecahan mendasar dalam proses historis; pembentukan ulang masyarakat dari dalam dan pembentukan ulangmanusia. Revolusi tidak menyisakan apapun dari keadaannya sebelumnya.[13] Dalam pengertian ini menurut Stzompka, revolusi adalah tanda kesejahteraan sosial. Jalannya revolusi menurut para sosiolog berada dalam sepupuh tahapan, yang pertama sekali didahului oleh kondisi khas yang disebut “revolutionary prodrome” yang ditandai oleh ketidakpuasan, keluhan, kekacauan dan konflik yang disebabkan krisis ekonomi atau fiskal. Selanjutnya menjalar pada perpindahan kesetiaan intelektual sebagai hasil agitasi kelompok tertentu dengan cara-cara tertentu seperti penyebaran pamflet atau doktrin yang menentang rezim yang lama.[14]

Dari paparan teoritis ini, revolusi muncul akibat adanya ketidakpuasan yang selanjutnya disulut oleh agitasi dan provokasi dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan menunjukkan kelemahan atau rasa kebencian pada rezim yang akan dijatuhkan. Artinya suatu revolusi tidak pernah berjalan spontan, dia berada dalam posisi direncanakan secara rapi dengan memanfaatkan situasi ketidakpuasan publik. Jadi sangat tidak benar bila dikatakan bahwa revolusi sosial di Sumatera Timur itu adalah suatu peristiwa yang berjalan spontan. Kasus revolusi sosial (yang pertama sekali diungkapkan oleh dr. Amir) yang terjadi di Sumatera Timur itu betul-betul suatu gerakan yang sudah direncanakan secara matang oleh kelompok-kelompok yang punya kepentingan dengan pembantaian para kaum bangsawan dan cendekiawan Sumatera Timur itu. Untuk kasus di Sumatera Timur, sudah jelas otak di balik serangkaian tindakan kejam di luar perikemanusiaan itu adalah Markas Agung yang dilaksanakan Volksfront dengan pimpinan utama Sarwono Sastro Sutardjo, Zainal Baharuddin, M. Saleh Umar, Nathar Zainuddin dan Abdul Xarim MS yang bekerja di balik layar.[15] Laskar yang berperan dalam aksi ini adalah Pesindo, Napindo, Barisan Harimau Liar, Barisan Merah (PKI) dan Hizbullah didukung buruh Jawa dari perkebunan serta kaum tani, demikian ulasan majalah Tempo edisi 50/Feb/1997.[16]

Motif pembantaian kaum aristokrat dan cendekiawan Sumatera Timur lebih dominan pada intrik politik dan balas dendam, seperti dituturkan saksi mata Maxinius Hutasoit, “Sudah tentu bahwa dalam revolusi sosial itu terselundup pula segala macam hal yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya secara obyektif dengan persoalan feodal. Kepentingan-kepentingan sendiri diboncengkan, dendam pribadi dibalas, nafsu rendah memperoleh pelampiasannya”.[17] Apa yang dikatakan oleh saksi mata di atas akan kita lihat kebenarannya pada uraian selanjutnya.

Sungguh beruntung kita mendapat informasi terkini dari saksi mata hidup dari kalangan korban revolusi sosial Tengku Luckman Sinar tentang duduk perkara Comite van Onvangst (Panitia Penyambutan) yang dijadikan dasar tuduhan dari golongan kiri membenarkan tindakan kejam yang disebut mereka revolusi sosial itu. Menurut keterangan Tengku Luckman Sinar, setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di Jakarta, berita itu masih desas-desus di Sumatera (maklum komunikasi tidak secanggih sekarang ini). Berita seperti itu pun cenderung ditutupi kantor-kantor berita pemerintah fasis Jepang. Muncul desas-desus bahwa tentara Sekutu (Belanda, Inggris, Amerika) akan masuk ke Sumatera mengurus tawanan perang Jepang setelah kekalahan Jepang terhadap Sekutu. Atas inisiatif Tengku Mansyur (kerabat Sultan Asahan) selaku Ketua Shu Sangi Kai Sumatera Timur pada tanggal 25 Agustus 1945 mengundang para tokoh dan penguasa tradisional Sumatera Timur ke rumahnya di Jl Raja/Jl. Amaliun Medan, seperti Xarim MS dan Mr. Yusuf berunding di rumahnya membentuk panitia diketuai Sultan Langkat dan wakil ketua Tengku Mansyur untuk menjelaskan kepada Sekutu alasan mereka bekerjasama dengan Jepang. Panitia inilah yang diisukan kaum kiri sebagai Comite van Onvangst, panitia yang akan menangkapi para tokoh kemerdekaan.[18] Tuduhan yang sampai hari ini tidak terbukti, meskipun para pelaku revolusi sosial telah menggeledah dan membakar istana-istana raja Simalungun, sultan Melayu dan Sibayak Karo. Slogan-slogan bernada revolusioner, seperti “rajar-raja penghisap darah rakyat”, “kaum feodal yang harus dibunuh” dan lagu “Darah Rakyat” menggelora di mana-mana. Para provokator ini kebanyakan adalah dari etnis bukan Simalungun, selain A. E. Saragihras yang menjadi eksekutor di lapangan, tidak diketahui apakah ada etnis Simalungun yang duduk di belakang meja mengatur tindakan biadab itu. Tetapi sudah pasti berdasarkan dokumen rahasia dari pihak Sekutu tanggal 2 Maret 1946 (sehari sebelum revolusi) sudah mereka ketahui bahwa PKI dan Harimau Liar bekerjasama erat sekali dalam tindakan itu.  Volksfront (front perjuangan rakyat) dan PARSI yang berdiri pertengahan Februari 1946 yang mana “Pasukan Kelima” dari dr. F. J. Nainggolan turut bergabung. Pesindo sendiri selaku organisasi pemuda pejuang sudah sedemikian rupa dipengaruhi oleh PKI. Tetapi yang lebih mengejutkan dari penelitian Tengku Luckman Sinar, ternyata aksi revolusi sosial itu ternyata sudah lama juga direncanakan pihak penjajah Belanda sejak tahun 1906, di mana kekuasaan kerajaan bumiputera semakin diperkecil, bahkan ada yang dihapus, seperti kerajaan Riau (1911). Pada tahun 1926, Belanda sudah mengangkat panitia untuk itu yaitu Extraterritorialiteitcommisie yang bertujuan bahwa wilayah pemerintahan sendiri yang otonomi itu harus dilenyapkan secara perlahan-lahan dan tatkala raja-raja sudah tidak ada lagi maka demokrasi lokal akan berkembang dan hapuslah kerajaan bumiputera itu.[19] Dan untuk tujuan itu, Belanda telah memakai agennya bernama dr. Amir wakil gubernur Sumatra seorang teosof lulusan Belanda yang beristrikan seorang perempuan Belanda (yang pada zaman Belanda sudah disamakan statusnya dengan Belanda)yang membelot ke NICA pada 23 April 1946. Dia kemudian meninggal di Belanda tahun 1949.[20]

Pembantaian atas kaum bangsawan Simalungun ini memang sejarah yang sulit diterima logika, sebab hanya dengan alasan “antek penjajah” yang dialamatkan kepada kaum bangsawan Sumatera Timur sudah menjadi dasar untuk tindakan pembantaian, perampokan bahkan pemerkosaan yang jelas tindakan manusia-manusia yang tidak bertuhan. Tengku Luckman Sinar dari hasil penelitiannya membuktikan bahwa tindakan segerombolan orang yang mengaku republikein itu merupakan proyek rahasia dari Markas Agung pimpinan komunis Sarwono dan Zainal Baharuddin dan Saleh Umar serta eksekutor lapangan A. E. Saragihras dari Barisan Harimau Liar (BHL) di Simalungun. Dalam pemeriksaan oleh pihak berwajib mereka mengaku bahwa tindakan itu digerakkan atas perintah Sarwono, Saleh Umar dan Yacob Siregar sebagai gembongnya untuk menghapuskan kerajaan di Sumatera Timur yang dituduh penghalang pada kemerdekaan. Eksekusi dilaksanakan mulai pukul 00.00 WIB tanggal 3-4 Maret 1946 tepat pada saat Gubernur Sumatera tidak berada di Medan, sebab pada hari itu Gubernur sudah “sengaja” diatur Markas Agung untuk kunjungan ke Sumatera Selatan. Kehadiran Gubernur Teuku Mohammad Hasan di Medan dianggap akan menggagalkan rencana Markas Agung tersebut. Wakil Gubernur Mohammad Amir yang sepaham dengan Markas Agung (Residen Abdul Karim) mengatur perjalanan Gubernur mulai 6 Februari 1946. Di saat Gubernur tidak berada di Medan, dilancarkanlah aksi pembantaian tersebut. Sehari sebelum gubernur berangkat, Residen Sumatera Timur Tengku Hafas (yang kemudian dipecat Markas Agung) mengunjungi gubernur di rumahnya, mengungkapkan firasat buruknya, bahwa sepeninggal gubernur akan terjadi suatu peristiwa. Ternyata firasat Tengku Hafas benar. Teuku Hasan menulis: “Firasat itu benar, 1 Maret bertempat di kediaman Mr. Luat Siregar di Medan, volksfront/PKI—M. Yunus Nasution dan Marzuki Lubis bersama divisi IV-TRI-Kol. A. Tahir dan Mahruzar (adik Sutan Syahrir), dan dengan bantuan wakil gubernur Moh. Amir—bermusyawarah untuk menumpas kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur pada tanggal 3 Maret 1946. [21]

D.      Jalannya Aksi Pembantaian

Pada tanggal 3 Februari 1946 raja-raja, sibayak dan sultan seluruh Sumatera Timur sudah menyatakan tekad mendukung dan berdiri di belakang pemerintah Republik Indonesia di hadapan wakil pemerintah Gubernur Mohammad Hasan, termasuk dr. Moh. Amir, Tengku Hafaz, Abdul Xarim MS dan pejabat Republik lainnya. Sedangkan seluruh penguasa swapraja Sumatera Timur hadir termasuk sultan Siak Sri Indrapura dari Riau. Dari Simalungun hadirRaja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha, Raja Purba Tuan Mogang Purba Pakpak, Raja Silimakuta Tuan Padiraja Purba Girsang yang sudah aktif di Markas Agung, Raja Siantar Tuan Sawadim Damanik, Raja Raya diwakili Tuan Jan Kaduk Saragih Garingging dan Raja Tanoh Jawa Mr. Tuan Kaliamsyah Sinaga. Rapat Komite Nasional Indonesia (KNI) itu dipimpin oleh Ketua KNI Sumatera Timur Mr. Luat Siregar.[22] Sultan Langkat pada waktu itu mewakili seluruh pemerintah swapraja Sumatera Timur menugucapkan pidato yang salah satunya berbunyi: “kami sultan-sultan dan raja-raja telah mengambil keputusan bersama untuk melahirkan sekali lagi itikad kami bersama untuk berdiri teguh di belakang Presiden dan Pemerintah Republik Indonesia dan turut menegakkan dan memperkokoh Republik kita”.[23] Meskipun demikian tegas pernyataan para penguasa tradisional tersebut, aksi pembantaian tetap berlangsung yang diiringi tindakan perampokan harta benda para kaum bangsawan, pembakaran dan perusakan istana kerajaan bahkan pemerkosaan puteri-puteri bangsawan seperti terjadi di kesultanan Langkat. Peristiwa sadis ini berlangsung di istana Tanjungpura kesultanan Langkat. Puteri Langkat itu demi menyelamatkan nyawa ayahnya Sultan Langkat terpaksa bersedia melayani nafsu binatang Marwan dan Usman Parinduri pelaku pembantaian itu. Kesadisan mereka dituliskan oleh Tengku Luckman Sinar, “… kedua puteri itu menjerit-jerit kesakitan dan setiap rintihan merupakan pisau sembilu menusuk jantung Sultan yang mendengar itu dari kamar sebelah”.[24]

Di Simalungun sendiri seperti telah dijelaskan di depan, eksekutornya adalah komandan Barisan Harimau Liar (BHL) A. E. Saragihras yang masih kerabat Kerajaan Panei. Menurut Tengku Luckman Sinar, “kebanyakan pelaksananya adalah suku Toba meskipun pimpinan utamanya adalah Saragihras putera Simalungun asli dan Saleh Umar memberikan instruksi rahasia untuk menangkapi raja-raja di sana kepada Pesindo”.[25] Mohammad Said yang mewawancarainya di penjara (setelah aksi pembantaian itu) berdasarkan pengakuan Saragihras sendiri, bahwa dia pada tahun 1944 sudah menjadi anggota Kenkoku Teisintai (Barisan Harimau Liar) yang dibentuk Inoue dan tahun 1945 memimpin BHL. Perintah menghabisi para raja itu diperoleh atas perintah Sarwono pimpinan Markas Agung dan Sekretaris Zainal Abidin yang mengunjunginya menyampaikan perintah rahasia itu.[26] Saleh Umar pimpinan tertinggi Markas Agung ketika dimintai ketegasan hitam di atas putih oleh Saragihras, dijawab oleh Saleh Umar: “Perintah ini adalah rahasia dan sayalah yang menanggung akibatnya”. Menurut Saragihras dari perintah Saleh Umar itu, raja-raja yang dianggap penghalang kemerdekaan yang harus dihabisi adalah Raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha, pemangku Raja Raya Tuan Jan Kaduk Saragih Garingging dan lainlain.[27] Untuk Kerajaan Tanoh Jawa eksekusi atas kaum bangsawan di sana dipercayakan kepada Bagus Saragih pimpinan PKI di Tanoh Jawa.[28] Harta rampasan dari para bangsawan itu diserahkan pada awal tahun 1949 kepada Mohammad Saleh Umar yang sudah diangkat menjadi Residen Sumatera Timur (setelah menggulingkan Tengku Hafaz). Harta benda bangsawan itu pernah dipakai sebanyak dua kali, pertama untuk membiayai perbekalan TNI di Sidikalang dan kedua, ketika mereka berada di Pasar Matanggor (Tapanuli Selatan) untuk membeli senjata dari Singapura yang untuk ini ditugaskan Saleh Umar kepada saudagar Tionghoa Oei Boen Tjoen yang ternyata melarikannya. Selanjutnya harta benda yang tersisa diserahkan kepada komandan teritorium Sumatera Kolonel Alex Kawilarang pada tahun 1950. Yang sempat dirampas Belanda sempat disimpan di kluis NHM Pematangsiantar dibawah pengawasan Teuku Mohammad Hasan dan dikembalikan kepada pemiliknya tahun 1948.[29]

1.       Kerajaan Panei.

Pada masa itu yang memerintah di Panei adalah Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha. Pada hari Minggu pagi, 3 Maret 1946 Tuan Mailan Purba Dasuha, anak tertua Tuan Marjandi adik kandung raja Panei (Tuan Anggi Panei) menginformasikan kepada keluarga raja Panei di Pamatang Panei bahwa akan ada malam itu gerakan revolusi sosial terhadap raja-raja dan sultan-sultan, supaya raja dan keluarga menyelamatkan diri ke rumah pesanggerahan raja Panei di Jl. Sekolah (sekarang Jl Sudirman) Pematangsiantar.

Pada hari itu juga Tuan Nagapanei (berdasarakan informasi dari Richard Nainggolan) melaporkan kepada raja Panei bahwa A. E. Saragihras dan laskarnya yang sudah terlatih akan datang menculik dan menjarah ke istana raja, supaya raja maklum dan segera menyelamatkan diri. Anehnya, meskipun raja Panei sudah mengetahui akan kedatangan pasukan BHL pimpinan laweinya sendiri A. E. Saragihras itu, dia bergeming tidak menyelamatkan diri ke Pematangsiantar.Pihak istana hanya melakukan tindakan antisipatif dengan menempatkan pengawal yang terdiri dari laksar Pesindo dengan pengawalan Raja Muda Panei Tuan Margabulan Purba Dasuha dan adik-adiknya yang sudah dewasa. Menurut Tuan Kamen Purba, abangnya Raja Muda pada waktu itu sudah aktif di pasukan Marsose yang berjuang melawan Belanda. Rakyat yang berkumpul pada waktu itu di sekitar istana menjaga keselamatan raja dan keluarganya. Tuan Aliamta Purba yang masih berumur 5 tahun pada waktu itu sedang sakit dikelilingi oleh kelurga besar raja. Di tengah malam tiba-tiba listrik padam, rupanya pasukan BHL sudah mengepung istana. Pasukan pengawal tidak berdaya menghadapinya, ada yang tewas dan sebagian diikat. Pasukan BHL berjumlah lebih kurang 50 orang itu naik ke istana, mereka tidak berbicara dan memakai penutup wajah. Serempak mereka masuk dan menjarah seluruh istana raja membawa karung masuk ke dalam kamar perbendaharaan raja, mengambil emas banyak sekali dari peti, uang perak gulden dan uang kertas Jepang. Pokoknya semua disikat tidak ada yang ketinggalan. Raja, raja muda dan Tuan Djautih dan seluruh perempuan dewasa diikat tangannya. Senjata revolver rajamuda turut dirampas. Seluruh isi istana dijarah dan raja, dua puteranya dan 28 rakyat yang tidak rela meninggalkan rajanya turut diikat dan dinaikkan ke dalam 2 buah truk. Iringan BHL berjalan menuju ke Tigaras, sepanjang perjalanan raja Panei disiksa dan akhirnya seluruh rombongan dibunuh dengan sadis di Nagori, dekat Tiga Sibuntuon. Beruntung Tuan Marga Idup Purba dan Tuan Iden, Tuan Abraham dan adik-adiknya berhasil melarikan diri dari istana berlari ke Nagahuta melewati kebun teh ke tempat markas tentara Jepang yang pada Minggu siang masih sempat berkunjung ke istana. Dari sana berangkat ke Pagarjawa dan dijemput pasukan TRI dan diamankan di Pematangsiantar (rumah Tuan Madja Purba Bupati Simalungun). Tuan Kamen sendiri pada malam itu bersama denggan Inang Bona (Puang Bona), isteri raja Panei/puteri dari Siantar di ladang raja Panei di Nagahuta.  Abangnya Tuan Nalim sedang bersekolah di Pematangsiantar. Rumah pesanggerahan raja Panei di Jl. Sekolah (sekarang Jl. Sudirman) sudah dikuasai BHL dan dijadikan markas mereka. Mobil pribadi raja Panei dirampas dan dipakai Urbanus Pardede yang sudah mengkudeta Tuan Madja Purba sebagai Bupati. Harta raja Panei habis disikat dan istana (rumah panggung berasiterktur semi Melayu) kemudian dibakar atas pimpinan seorang marga Sinaga. Sedangkan Rumah Bolon yang merupakan istana lama utuh tetapi puluhan tahun tidak terawat runtuh dimakan usia, karena ketiadaan perawatan.

Sesudah berita penculikan raja Panei terdengar oleh TRI, maka tentara pun mengejar jejak BHL ke arah Saribudolok dan Tigaras. Akhirnya mereka menemukan mayat keluarga aristokrat Panei berikut rakyat yang telah tewas mengenaskan itu. Menurut berita, mayat raja Panei, kepalanya dipenggal, tombak menembus duburnya sampai ke leher dengan lidah dicabut paksa. Mayat raja kemudian dimakamkan di dekat istananya yang sudah rata dengan tanah di Pamatang Panei, berikut seluruh keluarga dan rakyat kerajaan yang tewas itu. Sampai raja Panei meninggal, dia masih bertahan dengan agama suku dan tidak pernah menjadi Islam atau Kristen (tetapi lebih condong ke Islam). Anakboru Panei Tuan Djademan Saragih Garingging tuan Dologsaribu (ayah Prof. Dr. Boas Saragih) tewas dibantai dengan kejam. Tuan Nagapanei Tuan Djamonang Purba Sidadolog juga tewas dibunuh. Pembantaian terhadap keluarga raja Panei masih berlanjut sampai bulan April 1947, putera-putera raja Panei yang sudah aktif di perjuangan yaitu Tuan Margaidup Purba tewas dibunuh BHL, menyusul Tuan Kortas tuan Marjandi dan Tuan Mintari Purba kerani Kerajaan Panei. Nyaris saja seluruh keluarga bangsawan Panei punah bila tidak diselamatkan dengan sangat rahasia di Belawan.[30]

 

2.       Tanoh Jawa.

Raja Muda Tanoh Jawa Tuan Omsah Sinaga dan saudaranya raja Tanoh Jawa Tuan Kaliamsyah Sinaga selamat dari penculikan BHL dan mereka tinggal di Pematangsiantar. Tetapi saudaranya Tuan Dolog Panribuan Tuan Mintahain Sinaga dan puteranya rajamuda Tuan Hormajawa Sinaga (ayah Mayor Jatiman Sinaga) tewas dibunuh BHL beberapa bulan kemudian, yaitu 16 Agustus 1946. Menurut Killian Lumbantobing, mayatnya dicincang dan dicampur dengan daging kerbau serta disuguhkan untuk santapan pasukan BHL.[31] Menurut Tuan Gindo Hilton Sinaga masih banyak korban revolusi sosial di Tanoh Jawa yang masih belum terungkap.[32]

 

3.       Kerajaan Siantar.

Pemangku raja Siantar Tuan Sawadim Damanik pada waktu itu luput dari pembunuhan oleh BHL, karena pada waktu itu, beliau berada di rumahnya di Pamatang Bandar dilindungi oleh pendatang Batak Toba yang menggarap sawah di sana. Tetapi di Sipolha, beberapa kaum bangsawan tewas dibunuh, termasuk tuan Sipolha Tuan Sahkuda Humala Raja Damanik (ayah Tuan Djabanten Damanik). Bangsawan di Sipolha yang paling banyak mengalami pembantaian oleh BHL, berhubung dengan lokasinya yang relatif lebih terisolir di pantai Danau Toba, jauh dari pengawasan TRI. Banyak keluarga tuan Sipolha yang menyelamatkan diri ke daerah Parapat bahkan mengungsi sampai ke luar negeri. diperkirakan ada ratusan korban mati dibantai oleh BHL di Sipolha. Tuan Sidamanik sendiri Tuan Ramahadim Damanik bersama rajamuda Sidamanik Tuan Mr. Djariaman Damanik (lahir 1920) sudah mengetahui gelagat buruk ini, mereka menyingkir ke Pematangsiantar. Mr. Djariaman bertolak belakang dengan tuduhan Markas Agung adalah seorang republikein sejati yang turut melatih pasukan TKR di Tapanuli dengan pangkat Letnan Satu. Setelah bermufakat di rumah pesanggerahan Tuan Sidamanik, Tuan Bisara Sinaga tuan Djorlang Hataran, Tuan Baja Purba tuan Dolog Batunanggar, Tuan Djansen Saragih tuan Raya Kahean (anak Tuan J. Kaduk Saragih) berlindung di Kantor Polisi RI.[33] Beberapa hari kemudian Tuan Djariaman Damanik menemukan buku kecil berwarna merah darah beredar di kota Pematangsiantar yang judulnya “Revolusi Perancis dan Revolusi Soviet Rusia” di sampul terdapat lukisan palu arit, simbol partai komunis. Penulis buku itu menginformasikan bahwa tindakan “revolusi sosial di Suamatera Timur” pada 3-4 Maret 1946 adalah gerakan yang sama. Melihat keadaan yang semakin memanas, Tuan Djariaman Damanik memilih berangkat ke Tapanuli bergabung dengan TKR RI atas saran Komandan TKR Pematangsiantar Rikardo Siahaan. Dikawatirkan bergabungnya Rajamuda Sidamanik ke dalam TKR menimbulkan kesan TKR = Tentara Keamnana Raja.[34]

 

4.       Kerajaan Purba.

Meskipun raja Purba Tuan Mogang Purba telah mengungsi ke Markas Langit bersama anaknya Tuan Jamin Purba, tetapi keduanya tewas secara misterius. Tuan Jamita Purba dan Tuan Lintar Purba tewas disekitar Tigaras. Semuanya berlangsung di sekitar bulan April tahun 1947 (agresi kedua). Pantai Haranggaol pada masa itu dikabarkan penuh dengan mayat-mayat manusia yang tewas dibantai dengan sadis, sampai-sampai orang tidak mau memakan ikan dari danau Toba, karena sering kedapatan jari manusia dalam perut ikan itu. Pada tahun 1947 pemangku raja Purba Tuan Karel Tanjung gelar Parajabayak tewas terbunuh oleh BHL di Haranggaol. Anaknya Tuan Madja Purba pejabat pemerintah RI yang pernah menjadi Bupati Simalungun (dan dikudeta tokoh PKI Urbanus Pardede pasca revolusi) dan pejabat Gubernur Sumatera Utara. Keturunan raja Purba yang lain Mr. Tuan Djaidin Purba pernah menjabat sebagai walikota Medan. Tuan Djomat Purba (Tuan Anggi) terakhir Kolonel TNI aktif memimpin pasukan Blaw Pijper NST (untuk mempertahankan diri dari pelaku revolusi). Baik Tuan Mogang dan Tuan Djomat adalah putera Simalungun yang pantas dibanggakan, keduanya adalah anak yang dilahirkan Puangbolon Kerajaan Purba dari Siantar.[35]

 

5.       Kerajaan Silimakuta.

Raja Silimakuta yang saudah aktif di Markas Agung juga tewas dan tidak diketahui di mana makamnya, sewaktu mengungsi ke Tanah Karo. Bersama beliau turut tewas dibunuh dokter pertama orang Simalungun dr. Djasamen Saragih (anak Pangulubalei Djaudin Saragih). Keluarga raja Silimakuta kemudian mendirikan tugu baginya di Tigaraja Kec. Silimakuta Barat. Konon mayat Raja Silimakuta dihanyutkan di sungai Lau Dah dekat Kabanjahe. Turut juga ditangkap Pangulubalei Djaudin Saragih abang Pdt. J. Wismar Saragih dan ditahan di Raya Berastagi tetapi beliau mujur masih hidup diselamatkan TRI.

 

6.       Kerajaan Dolog Silou.

Raja Dologsilou terakhir Tuan Bandar Alam Purba Tambak berhasil diselamatkan rakyatnya sendiri dari keganasan pasukan BHL dan berdiam di Pematangsiantar.

 

7.       Kerajaan Raya.

Nasib naas menimpa pemangku raja Raya Tuan Jaulan Kaduk Saragih Garingging gelar Tuan Raya Kahean. Beliau seorang maestro seni Simalungun yang tidak ada tandingannya sampai hari ini dan perintis pembangunan jalan penghubung Sondiraya-Sindarraya. Semasa dia menjabat sebagai penguasa swapraja di Raya, sungguh banyak pembangunan yang dirasakan masyarakat seperti pengadaan listrik dan air minum serta transportasi bus yang diberi nama “Sinanggalutu” dengan rute Pematangsiantar-Pematang Raya. Beliau ditangkap pasukan BHL sewaktu menghadiri acara keluarga saudaranya Tuan Manakraya, bersama Opas Radan Sitopu dan Penilik Sekolah (Schoolopziner) Saulus Siregar. Ketiganya ditangkap dan dibawa ke bawah jembatan Bah Hutailing (dekat Sirpang Sigodang). Opas Radan Sitopu dapat meloloskan diri dengan berpura-pura mati dan menjatuhkan dirinya ke sungai, sedangkan Saulus Siregar dan Tuan Kaduk tewas dipenggal lehernya dan dihanyutkan di sungai Bah Hutailing tersebut. Mayatnya kemudian ditemukan TRI dan dibawa ke Pematangsiantar dan dimakamkan secara agama Kristen di belakang Gereja HKBP Kampung Kristen Pematangsiantar oleh pendeta HKBP. Pada waktu dia meninggal baru dua orang anaknya yang sudah berumahtangga dari 12 orang putera-puterinya. Salah seorang yang terkenal di antaranya adalah Tuan Bill Amirsjah Rondahaim Saragih yang dikenal sebagai seorang komponis jazz yang lama berdiam di Australia dan Aberson Marle Sihaloho yang dikenal selaku politisi. Tuan Anggi Raya yang dikenal dengan gelar Tuan Pamah (Tuan Pusia Saragih Garingging) memilih harakiri (gantung diri) di kampung Hutadolog Merekraya ketimbang ditangkap BHL. Keluarga bangsawan Raya lainnya melarikan diri ke hutan atau tempat yang aman.[36] Menurut Dja Sarlim Sinaga, turut dibunuh Bisa Lingga, Willem Saragih, Bungaronim Damanik, Parudo Girsang dari Saribudolok. Mereka-mereka ini adalah orang yang sebenarnya tidak ada hubungan darah dengan raja Raya, tetapi dibantai juga.[37] Sasaran BHL bukan lagi kaum bangsawan, tetapi juga mereka yang kebetulan posisinya sebagai pejabat sipil, tenaga medis (dokter, mantri, bidan), guru bahkan mereka yang kesan hidupnya terlihat kebarat-baratan.[38] Revolusi sosial dilihat sebagai sebagian orang sebagai ajang balas dendam dengan motif-motif pribadi yang berdampak sampai sekarang ini.

 

E.       Penutup

Tidak cukup rasanya hanya dengan sekian lembar halaman uraian tentang sejarah pembantaian kaum bangsawan Simalungun ini. Topik ini sangat menarik untuk dikaij oleh sejarawan yang berminat pada masalah perubahan sosial. Kita melihat bahwa revolusi sosial yang dikatakan dr. Amir (otak pembantaian) bukanlah revolusi dalam arti yang sesungguhnya yang mendatangkan kesejahteraan, tetapi justru sejarah kelam. Masyarakat Simalungun menjadi terkotak-kotak dan mengalami beban sejarah. Orang Simalungun terpaksa harus menjalani hidupnya dengan segala ketertekanan akibat pengaruh revolusi ini. Identitas selaku orang Simalungun apalagi yang kebetulan marganya dekat atau masih ada keturunan dengan marga kerajaan sudah cukup untuk alasan pihak yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindakan kekerasan, sehingga keturunan raja-raja Simalungun menjadi risau dan kuatir akan keselamatannya, banyak yang akhirnya menutupi identitasnya dan memakai identitas yang dirasakannya aman. Menanggalkan identitas kebangsawanannya dengan identitas yang aman di daerah pengungsian atau bahkan di kampungya sendiri.

Kita lihat bahwa korban-korban yang jatuh itu adalah top leaders-nya masyarakat adat Simalungun, pemegang hak ulayat di Simalungun, yang banyak mengetahui mengenai adat, sejarah dan budaya Simalungun. Kita dapat merasakan dampaknya sampai hari ini, kita sangat kekurangan figur tokoh yang benar-benar mengetahui dan faham benar akan adat, sejarah, budaya dan hak-hak adat masyarakat Simalungun. Kita menjadi kehilangan identitas, jatidiri dan cenderung melarutkan diri dengan identitas lain yang dirasakan aman. Kita juga kehilangan sumber daya manusia yang berkualitas dan ketinggalan dengan suku-suku tetangga, khususnya Karo dan Toba. Pada tahun 1958 sewaktu nasionalisasi perkebunan eks Belanda di Sumatera Timur, orang Simalungun dan Melayu tidak mampu duduk di jajaran penting di perkebunan itu karena kekurangan sumber daya manusia. Tempat itu kemudian diisi orang Karo dan Mandailing dari Tapanuli Selatan.[39]

Seperti disebutkan Tengku Luckman Sinar, etnis Karo, Melayu dan Simalungun sebagai penduduk asli Sumatera Timur harus bersatu, sebab mereka memiliki beban sejarah yang sama. Memang pemerintah pusat melalui KNIP Pusat tidak membenarkan aksi pembantaian itu. Para menteri seperti Sultan Hamengkubowono IX, Mrs. Maria Ulfah Santoso, Mr. Mohammad Roem dan Mr. Syarifuddin Prawiranegara pernah menjanjikan bahwa para korban revolusi sosial 1946 itu akan dikembalikan kehormatan, harta benda mereka dikembalikan oleh negara. Janji itu harus bersama-sama kita perjuangkan. Simalungun, Melayu dan Karo harus menuntut janji itu dipenuhi oleh pemerintah—yang memang terbukti gagal melindungi para pemerintah swapraja itu—dan kita sebagai pemangku adat Simalungun (PMS) harus berjuang untuk itu demi kehormatan kita sebagai orang Simalungun, penduduk asli daerah Sumatera Timur.

Dapat kita pahami analisis Liddle bahwa sebagai dampak revolusi itu, telah mengakibatkan orang Simalungun berada dalam posisi terancam dan mereka harus memilih bergabung dengan saudaranya senasib suku Melayu dan Karo penduduk asli Sumatera Timur dalam wadah Negara Sumatera Timur yang mereka proklamirkan tidak lama setelah revolusi itu, mempersenjatai dirinya dan masuk kesatuan Blaw Pijper, tentara NST yang dikomandani Tuan Djomat Purba, bangsawan Purba yang berhasil lolos dari pembantaian. Tuan Madja sendiri dipaksa mundur oleh PKI dari jabatannya sebagai bupati Simalungun dan harus menyerahkannya kepada seorang Batak Toba penganut paham komunis bernama Urbanus Pardede yang telah merampas mobil raja Panei untuk keperluannya pribadi.

Dari kajian ini, sangat mengherankan mengapa seorang Saragihras yang jelas punya hubungan keluarga yang sangat dekat dengan “lawei” nya sendiri Tuan Bosar Sumalam raja Panei dengan tega hati membantai dan menjarah isi istana. Begitu gampangkah orang Simalungun diagitas dan diprovokasi sampai harus tega membunuh keluarganya sendiri?

Rekomendasi:

  1.  Organisasi masyarakat Melayu, Karo dan Simalungun perlu membuat suatu Seminar Nasional Revolusi Sosial di Sumatera Timur ini. Dalam hal ini PMS dapat melaksanakannya bersama masyarakat Melayu dalam MABMI dan masyarakat Karo dalam Merga Silima. Sebab ketiga penduduk asli Sumatera Timur ini yang banyak menjadi korban pembantaian dan penjarahan serta pembakaran istana-istana kerajaan.
  2. Sudah saatnya tanggal 3 Maret ini menjadi hari yang pantas kita rayakan sebagai Hari Parmaluonkonni Halak Simalungun.
  3. Kasus pelanggaran HAM berat ini harus dituntaskan, kita harus memperjuangkan kepada pemerintah agar mengusut kasus ini secara adil, merehabilitasi nama baik mereka yang dituduh anti kemerdekaan. Harta dan hak-hak adat masyarakat adat Simalungun harus dipulihkan kembali, sebab kerajaan-kerajaan Simalungun sudah ada jauh sebelum republik ini berdiri, bila perlu membawa kasus ini ke Amnesti Internasional, sebab telah merugikan eksistensi penduduk asli Sumatera Timur.
  4. Harus ada rekonsiliasi di antara masyarakat adat Simalungun, di antara keturunan para korban dan mereka yang terlibat dalam aksi pembantaian itu. Sehingga kita punya satu persepsi dalam membangun masyarakat Simalungun dan masa depan suku Simalungun ke depan.

Hapoltakan, 19 Oktober 2010.

Daftar Pustaka

Clauss,Wolfgang, 1982. Economic and Social Change among The Simalungun Batak of North Sumatra, Saarbrucken Fort Laurderdale: Verlag BreitenbachPublishers.
Dasuha, Juandaha Raya Purba ., dan Sinaga, Martin Lukito, 2004. Memoar 80 Tahun St. Dja Sarlim Sinaga, Jakarta: Sardo Sarana Media.
Dasuha, Mailan Purba, 1970. Tarombo ni Purba Sidasuha. Naskah Ketikan. Arsiip Pribadi.
Hutasoit, Marnixius, 1986. Percikan Revolusi di Sumatera, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986.
Liddle. R. William. 1970. Ethnicity, Party and National Integration: An Indonesian Case Study , New Haven and London: Yale University Press.
Nainggolan, Nursanni, 1999. “Revolusi Sosial di Kabupaten Simalungun” naskah ketikan, arsip Djariaman Damanik, Medan.
Piotr Sztompka, 2005, Sosiologi Perubahan Sosial (diterjemahkan Alimandan, Jakarta: Prenada Media.
Prima, 1976. Medan Area Mengisi Proklamasi, Medan: Percetakan Waspada.
Purba, D. Kenan, 1995. Sejarah Simalungun, Jakarta: Bina Budaya Simalungun.
Reid, Anthony, 1987. Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra (terj.), Jakarta: Sinar Harapan.
Said, Mohammad, 1973. “What was The “Social Revolution of 1946” in East Sumatra”. Indonesia no. 15, Cornel Southeast Asia Program.
Saragih, Bintan R., dan Purba, 2000. Darwan Madja (eds.), 80 Tahun Djariaman Damanik: Seorang Ningrat, Pejuang Kemerdekaan, Penegak Hukum, Tokoh Masyarakat, Jakarta:Gaya Media Pratama.
Saragih, Kansi, 2002. “Eksistensi Sumatera Timur dari Sudut Pandang Sejarah dan Budaya”, makalah Simposium Pembentukan Propinsi Sumatera Timur, Pematangsiantar.
Simanjuntak, Batara Sangti, 1977. Sejarah Batak, Balige: Karl Sianipar Co.
 Sinar, Tengku Luckman, 2008. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur, Medan.
Sinopsis Upacara Pemindahan Makam Tuan Djaulan Kaduk Saragih Garingging, Brosur: Pamatang Raya, April 1995.
Tideman, J., 1922. Simeloengoen, Leiden: H. Becherer Stromdrukkerij.
van Langenberg, Michael, 1982. “Class and Conflict in Indonesia’s Decolonozation Process: A Study of East Sumatra”. Indonesia no. 33, Cornell Southeast Asia Program.
Wawancara:
Mr. Tuan Djariaman Damanik di Medan, bekas Raja Muda Sidamanik.
Tuan St. Drs. Kamen Purba Dasuha, putera raja Panei di Pematangsiantar.
Tuan Gindo Hilton Sinaga keturunan Tuan Girsang tinggal di Tigadolok.
* Makalah disampaikan pada Harungguan Bolon DPP Partuha Maujana Simalungun di Auditorim Radjamin Purba USI Pematangsiantar tanggal 22-23 Oktober 2010.
 ** Penulis adalah Pendeta GKPS, suku  Simalungun tinggal diJl Pdt. J.Wismar Saragih, Pematangsiantar, bekerja di Kantor Pusat GKPS Pematangsiantar.
[1] Michael van Langenberg, “Class and Ethnic Conflict in Indonesia’s Decolonization Process: A Study of East Sumatra’. Indonesia nomor 33/1982, hlm. 1. Native States di Sumatera Timur pada tahun 1945 terdiri dari 12 buah kerajaan-kerajaan Melayu yaitu: Hamparan Perak (Deli), Sunggal (Deli), Sukapiring (Deli), Senembah (Deli), Percut (Deli), Bedagai (Deli), Padang (Deli), Indrapura (Asahan), Tanah Datar, Pesisir, Limapuluh, Sukudua. Tanah Karo terdiri atas kerajaan-kerajaan (sibayak): Kutabuluh, Sarinembah, Lingga, Suka dan Barusjahe. Terakhir Simalungun terdiri atas: Dolog Silou, Silimakuta, Purba, Raya, Panei, Siantar dan Tanoh Jawa.
[2] Anthony Reid, Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera (Jakarta: Sinar Harapan, 1987, hlm. 111.
[3] Mohammed Said, “What was The “Social Revolution of 1946” in East Sumatra?” Transl. by Benedict Anderson and Toenggoel Siagian. Indonesia No. 15, 1973, Cornel South East Asia Program, hlm. 157-158.
[4] Ibid., hlm. 159.
[5] Anthony Reid, op. cit., hlm. 219.
[6] Batara Santi Simanjuntak, Sejarah Batak (Balige: Karl Sianipar Company, 1977), hlm. 188.
[7] Dalam suatu percakapan dengan beliau di rumahnya di makam raja-raja Panei di Pamatang Panei sekitar bulan Maret 2007.
[8] Dalam suatu percakapan di rumahnya di Medan, 2009.
[9] Wolfgang Clauss, Economic and Social Change among The Simalungun Batak of North Sumatra (Saarbrucken Fort Laurderdale: Verlag BreitenbachPublishers, 1982), hlm. 54.
[10] J. Tideman, Simeloengoen (Leiden: Stoomdrukkerij Louis H. Becherer, 1922), hlm. 84.
[11] R. W. Liddle, Ethnicity, Party and National Integration: Indonesian Case Study (New Haven and London: Yale University Press, 1970), hlm. 40.
[12] R. W. Liddle, Partisipasi dan Partai Politik Indonesia pada Awal Orde Baru (Jakarta: Grafiti Press, 1992), hlm. 28.
[13] Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial (diterjemahkan Alimandan) (Jakarta: Prenada Media, 2005), hlm. 357.
[14] Ibid., hlm. 364.
[15] Biro Sejarah Prima, Medan Area Mengisi Proklamasi, volume 1 (Medan: Badan Musyawarah Pejuang Republik Indonesia Medan Area, 1976), hlm. 628.
[16] “Amuk Massal: Dari Awal sampai Akhir Abad ke-20”, http://www.tempo.co.id/ang/min/01/50/nas.3.htm, diakses 6/8/2010 pukul 1:47 AM.
[17] Marnixius Hutasoit, Percikan Revolusi di Sumatera (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), hlm. 46.
[18] Tengku Luckman Sinar, Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur (Medan, tp., 2008), hlm. 477; lihat juga Prima, op. cit., hlm. 94.
[19] Ibid., hlm. Iii.
[20] Prima, op. cit., hlm. 727-728. Berbeda dengan Tengku Luckman Sinar, Mohammad Said dalam Prima lebih positif memandang pembelotan Amir.
[21] Teuku Mohammad Isa (ed.), Mr. Teuku Mohammad Hasan dari Aceh ke Pemersatu Bangsa (Jakarta: Papas Sinar Sinanti, 1999), hlm. 363.
[22] Prima, op. cit., hlm. 292.
[23] Ibid., hlm. 296.
[24] Tengku Luckman Sinar, op. cit., hlm. 497.
[25] Tengku Luckman Sinar, op. cit., hlm. 491.
[26] Mohammad Said, op. cit., hlm. 184.
[27] D. Kenan Purba, Sejarah Simalungun (Jakarta: Bina Budaya Simalungun, 1995), hlm. 98.
[28] Mohammad Said, op. cit., hlm. 184.
[29] Prima, op. cit., hlm. 638.
[30] Informasi via telepon dengan Tuan Kamen Purba Dasuha dari Jakarta, 18 Oktober 2010.
[31] Immanuel, Agustus 2001, hlm. 44.
[32] Kerajaan Tanoh Jawa meliputi wilayah terluas di seluruh Simalungun. Kedudukan raja berada di Pamatang Tanoh Jawa dibantu oleh partuanon-partuanon. Pada zaman Belanda, distrik Tanoh Jawa terdiri dari Dolog Panribuan di Tigadolog, Jorlang Hataran di Tigabalata dan Bosar Maligas di Pasarbaru. Tahun 1940 Girsang Sipanganbolon jadi satu distrik berkedudukan di Parapat dikepalai putera mahkota Kerajaan Siantar Tuan Sarmahata Damanik (anak raja Siantar T. Sangnaualuah Damanik). Wilayah Girsang Sipangan Bolon masuk dalam wilayah partuanon Jorlang Hataran. Girsang pada zaman Belanda dipimpin oleh Raja Na Onom yaitu: Tuan Sidasuhut Girsang (Tuan Kaha) yaitu Ompu Ranjo (leluhur dr. T. Maruahal Sinaga dan T. Gindo Sinaga), Tuan Sidahapittu Girsang, Tuan Porti Girsang, Tuan Sidasuhut Sipanganbolon, Tuan Sidahapittu Sipanganbolon dan Tuan Porti Sipanganbolon. Pada saat pelantikan raja di Tanoh Jawa, Tuan Girsang yang membawa “horbou panraja”, yang tanduknya disangkutkan di Tiang Nanggar Rumahbolon sebagai tanda pelantikan seorang raja, sedangkan dagingnya dibagikan kepada seluruh rakyat yang hadir untuk disantap bersama. Informasi dari Tuan Gindo Hilton Sinaga dari Tiga Dolog.
[33] Bintan R. Saragih dan Darwan M. Purba, 80 Tahun Djariaman Damanik: Seorang Ningrat, Pejuang Kemerdekaan, Penegak Hukum dan Tokoh Masyarakat (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), hlm. 29-30.
[34] Ibid., hlm. 30-40. Sewaktu di Dolok Sanggul Tapanuli, T. Djariaman Damanik bertemu dengan A. E. Saragihras yang pasukan BHL-nya mundur ke Tapanuli. Ketika ditanyakan seputar revolusi itu, Saragihras tidak ingin membicarakannya lebih dalam. Dia hanya bertanya tentang keadaan keluarga T. Djariaman.
[35] T. B. A. Purba Tambak, Sejarah Simalungun (Pematangsiantar: Percetakan HKBP, 1982),  hlm.112.
[36] Sinopsis Pemakaman Kembali Tuan J. Kaduk Saragih Garingging, Pamatangraya, 1995, hlm. 1-4.
[37] Juandaha Raya P. Dasuha dan Martin L. Sinaga, Memoar 80 Tahun St. Dja Sarlim Sinaga (Jakarta: Sardo Sarana Media, 2004), hlm. 25. Dja Sarlim Sinaga yang sudah bergabung dengan Pesindo ikut ditangkap saat sedang bekerja di sawah oleh dua orang BHL (beliau tidak mau menyebut nama) dan ditahan di Sondiraya. Di dalam tahanan rakyat itu, dia ditahan bersama adiknya dan Parudo Girsang yang lebih dulu ditangkap. Dia diinterogasi seputar aktifitasnya di politik, dan dia meyakinkan penculik bahwa dia adalah republikein. Akhirnya berkat pertolongan Tarianus Sigumonrong (ayah Mansen Purba) dia pun dibebaskan.
[38] Liddle, R. William, Ethnicity, Party and National Integration: An Indonesian Case Study (New Haven and London: Yale University Press, 1970), hlm. 54.
[39] Kansi Saragih, “Eksistensi Sumatera Timur dari Sudut Pandang Sejarah dan Budaya”, makalah Simposium Pembentukan Propinsi Sumatera Timur, Pematangsiantar, 2002, hlm. 6.

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan merupakan hasil pilir manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai, khususnya yang berkaitan dengan praktek pelaksanaan pendidikan. Selain pengertian tersebut terdapat juga beberapa pengertian filsafat pendidikan yang dikemukakan beberapa ahli :

1.    Muhammad Labib al-Najihi.

Filsafat Pendidikan adalah Suatu aktivitas yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan.

2.    Kilpatrik dalam Buku Philosophy of Education menyebutkan:

Berfilsafat dan mendidik adalah dua fase dalam satu usaha. Berfilsafat adalah memikirkan dan mempertimbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik, sedangkan mendidik ialah usaha merealisasi nilai-nilai dan cita-cita itu didalam kehidupan dan dalam kepribadian manusia. Mendidik ialah mewujudkan nilai-nilai yang disumbangkan filsafat, dimulai dengan generasi muda, untuk membimbing rakyat membina nilai-nilai di dalam kepribadian mereka, dan melembagakannya dalam kehidupan mereka.

3.    John Dewey.

Memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya  perasaan (emotional) menuju kearah tabi’at manusia, maka filsafat juga dapat diartikan sebagai teori umum pendidikan (Democracy and Education, P. 383)

4.    Prof. Brameld berkata tentang filsafat pendidikan :

Kita harus membawa filsafat guna mengatasi persoalan-persoalan pendidikan secara efisien, jelas, dan sistematis sedapat mungkin.

5.    Van Cleve Morris menyatakan :

“Secara ringkas kita mengatakan bahwa pendidikan adalah studi filosofis, karena ia pada dasarnya, bukan alat sosial semata untuk mengalihkan cara hidup secara menyeluruh kepada setiap generasi, akan tetapi ia juga menjadi agen (lembaga) yang melayani hati nurani masyarakat dalam perjuangan mencapai hari depan lebih baik (Van Cleve Morris, Becamingan Education, P.57 dalam buku Filsafat Pendidikan Islam, Prof HM. Arifin, Med, P. 3).

Dalam filsafat terdapat berbagai aliran; sehubungan dengan itu maka dalam flsafat pendidikan terdapapat berbagai aliran sesuai dengan aliran yang ada dalam filsafat. Berikut ini akan diuraikan berbagai aliran filsafat pendidikan tersebut.

BERBAGAI ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN:

1.Filsafat Pendidikan Ideallisme.
2.Filsafat Pendidikan Realisme.
3.Filsafat Pendidikan Materialisme.
4.Filsafat Pendidikan Pragmatisme.
5.Filsafat Pendidikan Eksistensialisme.
6.Filsafat Pendidikan Progresivisme.
7.Filsafat Pendidikan Perenialisme.
8.Filsafat Pendidikan Esensialisme.

9. Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme.

File ini dapat di Download pada Link di Bawah ini.

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

Upassa Simalungun

Marodor parsinaman manonggor huda huda
Layur do au hiranan bani si boru Purba

Sada simarlasina, Padua simargalung-galung
Bahat namin hanami marsanina, Pitah audo manaron namalungun

Dalan hua Ajibata, adong do tubuh Pisang
Anggo domma marrumah tangga, ulang ma adong hata mandok sirang

Tumpak ni piring ledeng, paledang-ledang pahu
Loja do hapeni inang, pagodang-godang kon au

Habang ma kapal terbang, mamboan pinggan pasu
Age daoh ham marlajang, ulang lupa ham hubakku.

Maretor porkis ipuh bani hayu aloban
Rado manektek iluh daoh bani hasoman

Manortor roba roba itongahni harangan
Age ihojot horja ,nasoppat lobei mangan

bulungni pisang lemes bulungni topu
Ham ma huahap inang agepe lape mardomu

sisir ni anak lajang pattang do itadingkon
Misir pe au marlajang hamdo nahusarihon

Etek pe pora pora aima panggantih itok
Etek pe horja asal adatna gok

torik pe namarsege torikan ope mamburbur
Otik pe naibere sonaima malas uhur

Mange mange si borhu sontohni poyon poyo
Age hita masombuh nabotoh habadoron

Eme na masak, Bulungni pe melus
Age aha namasa, Ulang lupa martonggo hubani Tuhan Jesus

Bahat macamni gaya-gaya, bani juma tapian
Ulang ma marpoya-poya, Unang parsuma passarian

Aek ni sipir-sipir, Pamurianni holi-holi
Nanget hita marpikkir, Ulang manosal holi

Urat ni gatap tano, rongging marsiranggoman
Age pe padao-dao, Tondyttai tong marsigomgoman

Ia bagod i nakkih, ilambung ni sampuran
Ia jaman on jaman canggih, ulang lupa hubani Tuhan

Halambir ni sindamak, ikuhur dop ibola
Sinaha pe nini halak, ulang lupa bani horja

Juma ni Tigarunggu, tubuhan lata-lata
Rajin ma hita mar minggu, ase tong-tong ihasomani Tuhanta

Sinjata ni Indonesia, mariam dohot mortir
Andohar Indonesia jaya, Rakyat ni pe homa makmur

Ratting ni hayu bor-bor, ibaen hu pingging pasu
Anggo rajin martonggo, Jumpahan pasu-pasu

Boras ni purba tua, iboan hu tiga balata
Horas ma hita sayur matua, itumpak-tumpak Naibatanta

Sada sikortas kajang, padua kortas hulipat
Sadokah ham marlajang, sada ham do hansa na hudingat

Arirang ni palia, madek-dek hu bong-bongan
Age adong parsalisihan, ulang mar sidom-doman

Tubuh ma silanjuyang, itagil lang ra melus
Aha pe lang na hurang, anggo marhasoman Jesus

Ulang ihondor gumba, timbaho sihondoran
Ulang martonggo rupa, parlaho do sitonggoran

Boras sabur-saburan, iboban ni pinggan pasu
Horas hita ganupan, sai jumpahan pasu-pasu

 

 

Sistem Kekerabatan di Simalungun.

Tolu Sahundulan, Lima Sadalanan

Sistem kekerabatan suku Simalungun bertolak dari azas TOLU SAHUNDULAN, LIMA SADALANAN, PITU SAODORAN. Azas yang sama (diketahui) juga terdapat pada sub-suku bangsa Batak lainnya (Karo, Mandailing, Pakpak dan Toba), hanya saja dengan sebutan yang berbeda-beda. Pada suku Batak Toba misalnya, disebut sebagai DALIHAN NA TOLU.

Azas TOLU SAHUNDULAN ini menempatkan seseorang, secara pasti sejak lahir sampai akhirnya meninggal dunia, memiliki tiga kemungkinan posisi dalam berinteraksi baik dengan individu maupun dengan sekelompok orang. Ada saatnya dibawah dalam arti harus lebih menghormati pihak (individu maupun kelompok) lawan bicara, ada saatnya sejajar dalam arti tidak perlu menganggap lawan interaksi sebagai pihak yang harus lebih dihormati tetapi cukup menganggap sebagai teman sebaya, dan ada pula saatnya diatas dalam arti menganggap diri sebagai orang yang selayaknya lebih dihormati. Pemposisian diri ini didasarkan pada penggolongan terhadap pihak lawan interaksi ke dalam tiga kelompok. Kelompok dimaksud adalah: (1)Tondong, yakni kelompok orang-orang yang posisinya di atas; (2)Sanina, yakni kelompok orang-orang yang posisinya sejajar; dan (3)Boru, yakni kelompok orang-orang yang posisinya di bawah.
Azas ini, setidaknya hingga saat ini, masih dijunjung tinggi sehingga pemposisian diri itu tidak terbatas hanya pada saat berinteraksi dengan anggota masyarakat suku Simalungun saja. Tetapi juga dengan individu lain diluar suku Simalungun, sejauh masih terdapat hubungan kekerabatan. Misalnya saja, melalui perkawinan antara salah satu anggota keluarganya dengan orang dari luar suku Simalungun.

Jadi, seseorang harus lebih menghormati pihak lawan interaksi bila berhadapan dengan kelompok Tondong, bersikap sebagai teman sebaya bila berinteraksi dengan Sanina dan pada saat berinteraksi dengan Boru, seseorang berada pada posisi di atasboleh menganggap diri sebagai orang yang harus lebih dihormati.

Meskipun boleh menganggap diri sebagai orang yang harus dihormati bila berinteraksi dengan Boru, itu tidak berarti boleh merendahkannya baik dalam sikap maupun perkataan. Sebab, tidak ada hukum dalam adat yang menyatakan hal itu boleh dilakukan, bahkan aturan adat yang menyatakan secara tegas bahwa posisi seseorang lebih tinggi dari Boru-nya pun tidak ada. Posisi diatas yang didapatkan seseorang dari Boru-nya hanyalah sebuah “anggapan”. Suatu anggapan yang muncul karena bagi Boru, seseorang itu dengan sendirinya adalah Tondong atau orang yang harus lebih dihormati.

Seperti halnya tidak adanya aturan adat yang secara tegas menyatakan bahwa posisi Tondong lebih tinggi dari boru, juga tidak ada aturan adat yang secara tegas menyatakan bahwa merendahkan boru sebagai suatu pelanggaran. Namun seseorang yang sering bersikap merendahkan Boru-nya, pasti akan mendapatkan ganjaran. Yakni pada saat seseorang itu melangsungkan suatu acara adat. Sebab pada saat itu, Boru akan sangat berperan. Pekerja utama dalam suatu acara adat seperti menyiapkan makanan, menyiapkan tempat menyelenggaraan acara dan pekerjaan- pekerjaan “kasar” lainnya adalah tugas pihak Boru. Bila pihak Boru sebelumnya selalu direndahkan, bagaimana mungkin mengharapkan mereka bekerja dengan baik? Dan, tidak ada satu pun acara adat yang tidak melibatkan Boru. Dengan perkataan lain, tanpa adanya Boru, acara adat tidak akan pernah bisa dilaksanakan.

Karena itulah orang-orang tua selalu mengingatkan agar menyayangi Boru.

MARGA-MARGA SUKU SIMALUNGUN

Sinaga
1. Sinaga Dahihoyong Bodat
2. Sinaga Dahihoyong Hataran
3. Sinaga Sidahalogan
4. Sinaga Sidahapintu
5. Sinaga Sidasuhut
6. Sinaga Sihaloho
7. Sinaga Simaibun (Simaibung?)
8. Sinaga Simandalahi
9. Sinaga Simanjorang
10. Sinaga Sipayung
11. Sinaga Sitopu

Saragih
1. Saragih Dajawak
2. Saragih Garingging
3. Saragih Munthe
4. Saragih Sidauruk
5. Saragih Simanihuruk
6. Saragih Simarmata
7. Saragih Sitanggang
8. Saragih Sitio
9. Saragih Sumbayak

Damanik
1. Damanik Barita
2. Damanik Bayu
3. Damanik Gurning
4. Damanik Limbong
5. Damanik Malau
6. Damanik Rampogos
7. Damanik Sarasan
8. Damanik Soula
9. Damanik Tomok
10. Damanik Usang

Purba
1. Purba Girsang
2. Purba Pakpak
3. Purba Siboro
4. Purba Sidadolog
5. Purba Sidagambir
6. Purba Sidasuha (Dasuha?)
7. Purba Sigumonrong
8. Purba Tambak
9. Purba Tambun Saribu
10. Purba Tanjung
11. Purba Tondang

Siapakah Yang Disebut Sebagai Orang Simalungun ?

Apakah Anda merasa sebagai orang Simalungun?

Seminar Kebudayaan Simalungun se-Indonesia (Pertama) pada tahun 1964 merumuskan bahwa :
“Marga Simalungun ialah mereka yang merasa dirinya Simalungun dan melakukan kebudayaan Simalungun sebagai kebiasaan hidupnya”.
Jadi, sekalipun kita menyandang marga Simalungun sejak lahir sampai mati, itu tidak membuktikan bahwa kita adalah orang Simalungun.
Tetapi, bagaimanakah kebiasaan hidup orang Simalungun itu?
Saya merasa tidak ada seorangpun dari kita yang bisa menjawabnya dengan tepat.
Seorang mahasiswa Antropologi bisa saja menyusun kerangka etnografi sebagaimana yang dia peroleh dari bangku kuliah. Akan tetapi bila kerangka etnografi itu yang dijadikan jawaban untuk pertanyaan tersebut, maka saya atau mungkin juga Anda akan menentang. Sebab, dalam kerangka etnografi itu akan ditemukan kalimat yang kurang lebih berbunyi seperti ini:
“Masyarakat suku Simalungun tinggal di rumah-rumah besar yang disebut “jabu” dan setiap rumah dihuni oleh setidak-tidaknya empat keluarga….” dan “….sejalan dengan agama “Sipelebegu” yang mereka anut, pada malam bulan purnama masyarakat suku Simalungun biasanya kerap mengadakan upacara-upacara keagamaan berupa pemberian sesajen kepada batu-batu besar atau pohon-pohon besar, sebagai penghormatan kepada roh-roh gaib penguasa alam semesta yang mereka yakini tinggal di batu-batu dan pohon-pohon besar tersebut….”
Saya tidak tinggal di rumah seperti itu. Bahkan Ompung saya pun tidak sempat merasakan hal itu. Saya juga tidak pernah melihat apalagi melakukan upacara-upacara penyembahan batu-batu besar atau pohon-pohon besar seperti itu. Saya yakin Anda juga tidak.
Nah, apakah si-mahasiswa yang menyusun kerangka etnografi tersebut berhak mengatakan saya bukan orang Simalungun? Saya rasa jawaban kita sama. Tidak! Akan tetapi kalau kita mengatakan diri kita orang Simalungun, sekalipun kita tidak melakukan kebudayaan Simalungun sebagai kebiasaan hidup kita, itu berarti kita meremehkan orang-orang tua suku Simalungun yang ikut serta dalam Seminar Kebudayaan Simalungun tahun 1964 itu. Itu adalah dosa, tidak menghormati orang tua.
Lalu bagaimana?
Mungkin Anda akan mengatakan: “Memangnya apa untungnya jadi orang Simalungun?”
Bila Anda mengatakan seperti itu, sementara Anda tahu bahwa sebenarnya Anda sendiri atau salah satu orang tua atau kakek/nenek Anda berasal dari daerah Simalungun, saya rasa Anda kurang benar juga. Karena dengan begitu Anda telah memutuskan secara sepihak hubungan Anda dengan sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan Anda yang tinggal di daerah Simalungun, sementara mereka masih menganggap Anda sebagai bagian dari diri mereka dan bahkan mungkin beberapa diantara mereka seringkali memimpikan Anda pulang untuk membantu mereka keluar dari keterbelakangan mereka.
Bukankah itu suatu penghianatan?
Penghianatan Anda kepada mereka?

Nah, bila Anda punya ide atau apapun yang bisa membantu orang-orang Simalungun, khususnya yang tinggal di daerah Simalungun, untuk meraih kemajuan seperti yang telah Anda rasakan, mari bersama-sama melakukannya. Home page ini terbuka untuk Anda.

Horas! Horas! Horas ma banta haganupan!

Ensembel Musik Tradisional Simalungun

 A.    GONRANG SIDUA-DUA SIMALUNGUN

Gonrang Sidua-dua adalah seperangkat musik tradisional simalungun yang terdiri dari satu buah sarune bolon, dua buah gonrang, dua buah gonrang mongmongan dan dua buah ogung. Gonrang dalam kebudayaan simalungun disebut juga dengan mardagang yang artinya merantau atau berpindah-pindah. Pemain Gonrang Sidua-Dua disebut Panggual. Lagu-lagu gonrang disebut Gual. Membunyikan/memainkan Gonrang disebut Pahata.

Gual gonrang sidua-dua dibedakan atas dua bagian :

  1. Topapon, yaitu gual yang menggunakan dua buah gendang dan pola ritmenya sama.
  2. Sitingkahon/Siumbakon, yaitu gual yang menggunakan dua buah gendang yang masing-masing mempunyai pola ritme yang berbeda. Apabila pembawa ritme dasar oleh gonrang sibanggalan dan gonrang sietekan sebagai pembawa ritme lain, maka disebut sitingkahon. Apabila pembawa ritme dasar oleh gonrang sietekan dan gonrang sibanggalan sebagai pembawa ritme lain, maka disebut siumbakon.

Penggunaan Gonrang Sidua-Dua

Dalam upacara religi, maksudnya suatu upacara pemujaan atau penyembahan maupun pemanggilan roh yang baik dan pengusiran roh yang jahat. Gonrang sidua-dua digunakan dalam acara :

  1. Manombah/memuja, yaitu untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
  2. Marangir, yaitu suatu acara untuk membersihkan badan dari perbuatan tidak baik dan roh-roh jahat.
  3. Ondos Hosah, yaitu semacam ritual tolak bala yang dilakukan oleh desa atau keluarga.
  4. Manabari/manulak bala, yaitu mengusir mara bahaya dari suatu desa atau dari diri seseorang.
  5. Marbah-bah, yaitu suatu untuk menjauhkan seseorang dari penyakit ataupun kematian.
  6. Mangindo pasu-pasu, yaitu meminta berkat agar tetap sehat dan mendapat rezeki.
  7. Manogu losung/hayu, yaitu acara untuk mengambil kayu untuk dijadikan lumpang atau tiang rumah.
  8. Rondang bintang, yaitu suatu acara setelah panen besar.

Dalam upacara adat, yaitu  upacara dalam hubungan antara manusia dengan manusia. Gonrang sidua-dua digunakan dalam acara :

  1. Mamongkot rumah, yaitu acara memasuki rumah baru.
  2. Patuekkon, yaitu acara untuk membuat nama seseorang.
  3. Marhajabuan, acara pemberkatan pada suatu perkawinan agar perkawinan tersebut diwarnai kebahagiaan.
  4. Mangiligi, yaitu suatu acara yang diadakan untuk menghormati seseorang yang meninggal dunia yang sudah memiliki anak cucu.
  5. Bagah-bagah ni sahalak, yaitu suatu acara yang diadakan karena seseorang ingin membuat pesta.

Dalam acara malasni uhur atau acara kegembiraan, Gonrang sidua-dua digunakan dalam acara :

  1. Mangalo-alo tamu, yaitu suatu acara untuk menyambut tamu penting dari luar daerah.
  2. Marilah, merupakan suatu acara muda-mudi yang menyanyi bersama.
  3. Pesta malasni uhur, yaitu suatu acara kegembiraan yang diadakan suatu keluarga.
  4. Peresmian, bangunan-bangunan, yaitu suatu acara kegembiraan meresmikan bangunan.
  5. Hiburan, dan lain-lain.

B.     GONRANG SIPITU-PITU/ GONRANG BOLON SIMALUNGUN

Gonrang sipitu-pitu/ gonrang bolon adalah seperangkat alat musik tradisional Simalungun yang terdiri dari satu buah sarunei bolon pemainnya disebut parsarune, tujuh buah gonrang pemainnya disebut panggual, dua buah mong-mongan pemainnya disebut parmongmong dan dua buah ogung yang pemainnya disebut parogung. Parhata gonrang sipitu-pitu sama dengan gonrang sidua-dua. Masyarakat simalungun menyebut  gonrang ini dengan nama gonrang bolon untuk upacara adat malas ni uhur (sukaria) dan menyebutnya gonrang sipitu-pitu untuk upacara adat mandingguri (duka-cita)

Penggunaan Gonrang sipitu-pitu

Dalam upacara religi, gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon digunakan dalam acara :

  1. Manombah/memuja
  2. Maranggir
  3. Ondosh Hosah
  4. Manabari/ mamulak bala
  5. Mangindo pasu-pasu
  6. Rondang Bintang
  7. Manraja, yaitu upacara penobatan seorang raja.

Dalam upacara adat gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon digunakan dalam :

  1. Upacara adat sayurmatua : mandingguri dan mangiliki
  2. Upacara data malas ni uhur : mamongkot rumah, patuekkon, marhajabuan, bagah-bagah ni sasahalak.

Nyanyian Rakyat Simalungun

Orang simalungun menyebut nyanyian rakyat simalungun dengan doding. Bernyanyi dalam bahasa simalungun disebut mandoding. Adapun jenis-jenis nyanyian rakyat simalungun adalah sebagai berikut :

  1. Taur-taur dan simanggei, nyanyian keluh kesah pemuda-pemudi. Taur-taur dinyanyikan oleh pemuda dan simaggei dinyanyikan oleh pemudi.
  2. Ilah, yaitu nyanyian yang dilakukan oleh pemuda dan pemudi secara bersamaan.
  3. Doding-doding, yaitu suatu nyanyian bersama-sama (nyanyian umum).
  4. Urdo-urdo, yaitu nyanyian dari orang tua untuk menidurkan anak yang masih kecil.
  5. Tihtah, yaitu nyanyian untuk bermain
  6. Tangis, merupakan nyanyian duka karena putus asa  berpisah dengan anggota keluarga karena kematian.
  7. Orlei dan dan mardogei, yaitu suatu nyanyian yang dilakukan secara bersama-sama sambil bekerja.
  8. Mandillo tonduy, yaitu nyanyian yang dilakukan ibu tua untuk memanggil roh.
  9. Manalunda/mangmang yaitu suatu mantera yang dinyanyikan oleh seorang datu (dukun) guna menyembuhkan suatu penyakit atau pelantikan seorang raja.
  10. Inggou turi-turian, yaitu suatu nyanyian yang dilagukan oleh seorang datu untuk hiburan dan diakhiri dengan suatu upacara.

Fungsi nyanyian rakyat simalungun :

  1. Pengungkapan emosional
  2. Penghayatan estetis
  3. Sebagai Hiburan
  4. Sarana komunikasi
  5. Sebagai pelambang
  6. Untuk reaksi jasmani
  7. Kontrol sosial
  8. Untuk pengesahan lembaga sosialdan upacara agama
  9. Sarana pengajaran

Untuk pengintegrasian masyarakat.

Biodata Pribadi

Ijuma parmahanan, Bahat do Bangun bangun.
Ijape hita maringanan. Sai ulang malupa bai adat Simalungun….

Nama : Dearmawanto Munthe,A.Md

Tempat, Tgl Lahir : Purbatua Etek, 11 Juni 1987

Alamat : Jln. A.H Nasution No. 23 B

No, Hp : +6281397773664

Pendidikan :

SD Sw St Petrus Medan, Tahun 1993

SMP Sw St Petrus Medan, Tahun 2000

SMK – TI Darma Bhakti Medan, Tahun 2003

Teknik Mesin – D3 UNIMED, Tahun 2006

Pendidikan Teknik Mesin S1 UNIMED, Tahun 2011.

Saya Anak Pertama dari 4 Bersaudara, Semua Laki-Laki, Yang mana Bapak Saya Bermarga Saragih Munthe, Yang hanya menamatkan SMA di Saribudolok, Sedangkan Ibu saya Boru Purba Tambak, Yang hanya menamatkan Sekolah Dasar (SD). Seiring Kemajuan jaman, dan berkembangnya IPTEK, Saya selain Kuliah Juga Mengikuti Organisasi Extra Kampus, Yang Mana Organisasi Tersebut Ber- Wawaskan Sosial, Budaya.

Sangat Banyak Pahit dan Manis yang saya Rasakan Selama Kuliah dan Ber- Organisasi. Saya Bangga Sebagai Orang Simalungun dan Aktif di Organisi Tersebut. Organisasi yang Saya Maksud Itu Yakni HIMAPSI (Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun). Sebelum saya masuk Organisasi ini, saya tidak lah memiliki wawasan dan keberanian dalam segala hal. Gimana lah saya yang dulunya hanya orang Rumahan, yang tidak mengetahui isi Dunia Ini. Seperti Pepatah lama yang mengatakan ” Seperti Katak di Bawah Tempurung”. Adapun Pengalaman-pengalaman saya dalam Organisasi Himapsi ini :

Jabatan :
 Redaktur Pelaksana Buletin Panondang Anak Simalungun (PAS) 2009-2011
 PAW Departement Sosial DPK HIMAPSI UNIMED Periode 2009-2011
 Humas Panitia Natal 2009
 Koord. Publikasi Diesnatalis ke – 32 DPK HIMAPSI UNIMED, 2009
 Koord. Pengarah Massa Masper DPK HIMAPSI UNIMED, 2010
 Koord. Humas Masper DPK HIMAPSI UNIMED, 2010
 Koord. Humas Natal, 2010
 Koord. Publikasi, Dekorasi, Dokumentasi Muscab 2009-2011

 Koord. Publikasi, Dokumentasi & Dekorasi Pelantikan DPC Himapsi Kota Medan
 Ketua Biro Kemitraan, Komunikasi & Wirausaha DPC HIMAPSI Medan Periode 2011-2013.

Inilah Singkat Pengalaman Saya Selama Berorganisasi.

Salam Juang.